Ramadan Cuan, Pesanan Kue Kering Hingga Ribuan Toples
Ekbis

Ramadan Cuan, Pesanan Kue Kering Hingga Ribuan Toples

  • Permintaan kue kering yang meningkat tajam menjelang Idulfitri membuat sebagian pelaku usaha bahkan harus menambah tenaga kerja
Ekbis
Ambarwati

Ambarwati

Author

IBUKOTAKINI.COM – Bulan Ramadan menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha makanan rumahan. Permintaan kue kering yang meningkat tajam menjelang Idulfitri membuat sebagian pelaku usaha bahkan harus menambah tenaga kerja demi memenuhi pesanan yang membludak.

Ini yang dirasakan Anlova (31), ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Gunung Guntur, Balikpapan, Kalimantan Timur. Sehari-hari, ia menerima pesanan snack box untuk acara-acara tertentu. Namun saat momen Ramadan hingga Lebaran, dapur di rumahnya ia sulap sebagai tempat produksi kue kering.

Tidak sendiri, ide ini awalnya dicetuskan sang suami, Agil Ismail yang akhirnya bersama ia memproduksi kue kering selama lebaran. Jika tahun-tahun sebelumnya ia, suami dan dua karyawan hanya melayani kurang lebih seribu pesanan kue kering. Tahun ini pesanan mencapai 4.000 toples lebih. 

Ia menerima pesanan dalam jumlah besar yang membuat dapur produksinya bekerja hampir tanpa henti. Dari total pesanan tersebut, mayoritas pesanan adalah kue kering nastar yang kerap jadi primadona pada momen Hari Raya Idulfitri. 

"Dari total pesanan, 4.000 diantaranya adalah jenis nastar yang harus diselesaikan dalam waktu sekitar 10 hari," sebutnya. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/dapur-kue-kering-di-balikpapan-sibuk-jelang-lebaran-pesanan-membludak

Untuk mengejar target produksi, ia terpaksa menambah tenaga kerja hingga 15 orang. Dengan dua karyawan tetap serta bantuan suaminya, total ada sekitar 17 orang yang terlibat dalam proses produksi kue kering tersebut.

“Biasanya kalau pesanan sekitar 1.000 toples per bulan saat musim Lebaran, kami kerjakan berempat saja. Tapi untuk pesanan 4.000 ini memang tidak mungkin,” katanya.

Dalam sehari, dapur produksinya bisa mengolah hingga dua hingga tiga karung tepung terigu. Setiap karung berisi 25 kilogram tepung. Adonan nastar dibuat langsung oleh Anlova dan suaminya, sementara para pekerja lainnya membantu membentuk adonan, memanggang, hingga mengemas kue ke dalam toples.

“Yang bikin adonan saya sama suami. Yang lain ada yang bulat-bulatin adonan, ada yang bagian oven sambil oles, ada juga yang packing,” jelasnya.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/hampers-lebaran-mulai-diburu-harga-di-balikpapan-capai-rp-3-juta

Kue nastar yang diproduksi dijual sekitar Rp55 ribu per toples ukuran 250 gram. Meski permintaan tinggi, Anlova tetap harus menyesuaikan bahan baku agar biaya produksi tidak melonjak terlalu tinggi.
Tingginya pesanan ini juga membuka peluang kerja sementara bagi masyarakat sekitar. Sebagian pekerja yang membantu produksi berasal dari kalangan ibu rumah tangga hingga pelajar. 

“Yang anak sekolah ada enam orang. Ada juga ibu-ibu dan teman-teman dari jaringan kerja di hotel dulu,” katanya.

Anlova sebelumnya memang bekerja di industri perhotelan sebagai Demi Chef sejak 2012 hingga akhirnya memutuskan berhenti pada 2024 setelah menikah berencana memiliki anak.

Meski usaha kue keringnya berkembang pesat, ia mengaku masih menjalankannya secara sederhana dari rumah. Di luar Ramadan, ia juga menerima pesanan kue pastry, snack box, hingga parsel Lebaran.
Namun menurutnya, Ramadan tetap menjadi periode paling ramai bagi usaha yang dijalaninya.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/sidak-parcel-lebaran-pemkot-balikpapan-pantau-izin-edar

“Tahun lalu omzet dari kue kering sekitar Rp40 juta sampai Rp50 juta. Tahun ini karena ada pesanan besar, totalnya bisa di atas Rp200 juta, tapi itu masih omzet kotor,” ujarnya.

Selain kue kering, ia juga sempat menerima pesanan parsel lebaran lebih dari 100 paket dengan harga mulai Rp100 ribu hingga Rp450 ribu per paket.

Bagi Anlova, Ramadan bukan hanya menghadirkan berkah dari sisi usaha, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi di lingkungan sekitar.

“Yang paling terasa sebenarnya bukan bahan bakunya, tapi cari tenaga kerjanya yang susah. Tapi tetap saja, momen Ramadan ini sangat membantu usaha kecil seperti kami,” pungkasnya. ***