
REI Kaltim Ungkap Penyebab Realisasi Program 3 Juta Rumah Paling Rendah
- Targetkan Produksi Rumah Meningkat
Kabar Ibu Kota
IBUKOTAKINI.COM – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Kalimantan Timur mengungkap rendahnya realisasi pembangunan rumah di provinsi ini, meski memiliki potensi ekonomi dan sumber daya alam yang besar.
Bahkan, capaian pembangunan perumahan di Kaltim disebut menjadi yang terendah di Pulau Kalimantan, di luar Kalimantan Utara.
Ketua DPD REI Kaltim, Wahyudi, mengatakan pihaknya mendapat amanah dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) REI untuk meningkatkan produksi rumah sekaligus mendukung percepatan Program 3 Juta Rumah yang dicanangkan pemerintah.
"Dari DPP REI kami mendapat informasi bahwa realisasi pembangunan rumah di Kalimantan Timur menjadi yang terendah se-Pulau Kalimantan di luar Kalimantan Utara," ujar Wahyudi, dalam silaturahmi dan syukuran terpilihnya Andi Kalaru sebagai ketua Komisariat REI Balikpapan, Kamis (9/7/2026).
Ia memaparkan, dalam setahun pembangunan rumah di Kalimantan Timur baru mencapai sekitar 2.800 unit. Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan provinsi lain di Kalimantan.
Sebagai perbandingan, Kalimantan Selatan mampu membangun sekitar 6.000 rumah per tahun, Kalimantan Barat sekitar 4.000 rumah, sedangkan Kalimantan Tengah mencapai 3.000 rumah.
"Padahal dari sisi sumber daya alam, Kalimantan Timur jauh lebih besar. Ini menjadi tantangan besar bagi kami, mengapa pembangunan perumahan justru lebih kecil," katanya.
Tiga Faktor Penghambat Program 3 Juta Rumah
Wahyudi menjelaskan, berdasarkan hasil kajian REI Kaltim dan pembelajaran dari sejumlah daerah di Pulau Jawa maupun Sumatera, terdapat tiga faktor utama yang menentukan percepatan pembangunan perumahan.
Faktor pertama adalah dukungan pembiayaan dari sektor perbankan, kedua percepatan regulasi dan perizinan dari pemerintah daerah, serta ketiga adalah proses administrasi pertanahan di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Menurutnya, daerah yang berhasil mempercepat pembangunan perumahan selalu memiliki koordinasi yang kuat antara pemerintah, perbankan, dan BPN.
"Kami sudah mempelajari berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Ketika ada persoalan, tiga pihak ini langsung duduk bersama mencari solusi sehingga pembangunan tidak terhambat," jelasnya.
Ia menilai pola koordinasi tersebut perlu diterapkan di Kalimantan Timur agar target pembangunan rumah dapat meningkat secara signifikan.
REI Kaltim Targetkan Produksi Rumah Meningkat
DPD REI Kaltim juga menargetkan peningkatan produksi rumah melalui peningkatan jumlah akad rumah pada tahun ini.
Menurut Wahyudi, capaian tahun sebelumnya masih berada di kisaran 1.188 akad rumah. Tahun ini, pihaknya menargetkan realisasi dapat meningkat menjadi minimal 1.500 hingga sekitar 2.000 unit.
Namun, target tersebut hanya bisa tercapai apabila hambatan perizinan, pembiayaan, dan proses pertanahan dapat diselesaikan.
"Kami optimistis target itu bisa dicapai apabila perizinan dan seluruh proses pendukung lainnya berjalan lebih cepat," ujarnya.
REI Minta Dukungan Perbankan dan Pengurus Baru
Selain pemerintah, REI Kaltim juga berharap perbankan, khususnya bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), dapat memberikan dukungan lebih besar terhadap pembiayaan sektor perumahan.
Menurut Wahyudi, sejumlah bank di daerah sebenarnya telah berupaya maksimal, namun masih terbentur kebijakan di tingkat pusat yang membatasi penyaluran pembiayaan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengucapkan selamat kepada Ketua DPD Komisariat REI Balikpapan yang baru dan berharap kepengurusan baru dapat memperkuat koordinasi dengan anggota, pemerintah daerah, serta sektor perbankan.
Di sisi lain, Wahyudi mengingatkan pentingnya mitigasi terhadap berbagai persoalan yang muncul di sektor properti. Ia menilai kasus-kasus yang terjadi di Balikpapan cenderung meningkat setiap tahun sehingga perlu diantisipasi melalui sosialisasi regulasi kepada para pengembang.
"Kami berharap jika ada persoalan atau potensi kegaduhan, bisa segera diselesaikan melalui koordinasi sehingga tidak menghambat pembangunan perumahan di Kalimantan Timur," pungkasnya.***
