
Respon Serangan AS, SBY: Saya Pernah Bertempur 5 Tahun
- Susilo Bambang Yudhoyono Kritik Serangan Amerika dan Israel ke Iran.
Tren
IBUKOTAKINI.COM – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), turut menanggapi eskalasi militer yang terjadi akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026.
Dia menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah, yang menurutnya berpotensi membawa dampak besar bagi perdamaian dunia.
Dalam penilaian SBY, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran bukan hanya memicu konflik baru tetapi juga mempertanyakan kembali nilai diplomasi dalam penyelesaian sengketa antarnegara.
Ia mengingatkan bahwa negara-negara besar sering dihadapkan pada dua pilihan besar: perang atau diplomasi.
BACA JUGA:
Keputusan memilih jalan konflik, katanya, harus mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan stabilitas global.
“Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah,” tulis SBY di akun X.
SBY yang juga pernah mengabdi selama 30 tahun di dunia militer termasuk lima tahun bertempur untuk Merah Putih, menekankan bahwa prajurit memiliki jiwa, harapan, dan keyakinan yang sangat bergantung pada alasan moral di balik sebuah perang.
“Para perwira dan prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya,” ujar SBY.
BACA JUGA:
Menurut mantan presiden yang pernah memimpin Indonesia dari 2004 hingga 2014 ini, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa keputusan perang yang terburu-buru sering membawa konsekuensi berat.
Ia menyinggung pengalaman pahit Amerika Serikat di konflik seperti di Vietnam, Irak, dan Afghanistan sebagai pelajaran penting bahwa perang bukanlah solusi sederhana dan tanpa risiko.
SBY juga menyerukan kepada seluruh pemimpin dunia yang memegang kendali atas keputusan militer untuk lebih berhati-hati dan mengedepankan diplomasi dalam menyelesaikan konflik.
Ia mengingatkan, “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” — prajurit tidak akan bertempur dan siap mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati. ***
