GTBO kembali menyiapkan produksi batubara setelah RKAB 2026 disetujui.
Ekbis

RKAB 2026 Baru Disetujui, Perusahaan Batu Bara di Bunyu Ini Nambang Lagi

  • Karyawan Tinggal 36 Orang
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM – Perusahaan pemilik konsesi batu bara di batu bara, Kalimantan Utara, PT Garda Tujuh Buana Tbk bersiap kembali beroperasi. 

Penghuni bursa dengan kode GTBO akan mengoperasikan kegiatan produksi batu bara setelah mendapatkan persetujuan RKAB 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Untuk membiayai tahap awal dimulainya kembali produksi, perusahaan akan menjual persediaan batu bara yang telah dimiliki dengan nilai tercatat US$1,75 juta.

Direktur GTBO Yanry Musa menyebut persetujuan RKAB 2026 diterbitkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM melalui surat Nomor T-247.RKAB/MB.05/DJB.B/2026 tertanggal 25 September 2026.

BACA JUGA:

HBA Oktober 2026 Turun, Harga Batu Bara 5.300 GAR Jadi USD 90,60 per Ton - ibukotakini.com

Dengan persetujuan tersebut, GTBO menyatakan akan mulai kembali melakukan penjualan persediaan batubara pada awal Oktober 2026 sebelum kegiatan produksi dimulai.

“Per 31 Maret 2026 Perseroan memiliki persediaan batubara dengan nilai tercatat US$1.752.368. Dengan telah disetujuinya RKAB 2026, persediaan tersebut akan dijual terlebih dahulu pada awal bulan Oktober 2026 kepada PT Niaga Energi Dunia dan hasilnya digunakan sebagai salah satu sumber pendanaan awal kegiatan produksi,” kata Yanry Musa dalam keterbukaan informasi,  Senin (5/10/2026).

Volume penjualan tersebut diperhitungkan dalam kuota RKAB 2026.

Produksi Kembali Dimulai Oktober

GTBO sebelumnya menyampaikan rencana memulai kembali produksi pada minggu pertama atau kedua Oktober 2026.

Namun, perusahaan tidak bisa langsung mengoperasikan tambang setelah RKAB disetujui. Ada sejumlah tahapan yang harus diselesaikan, terutama karena kegiatan produksi sebelumnya dihentikan sementara selama RKAB 2026 belum memperoleh persetujuan.

BACA JUGA:

Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Kaltim Disubsidi Rp10 Juta untuk Beli Rumah - ibukotakini.com

Yanry Musa menjelaskan, persiapan produksi kembali membutuhkan penyewaan berbagai peralatan dan perlengkapan, antara lain alat berat, jetty, conveyor belt serta perangkat pendukung produksi.

Tahapannya dimulai dari penyelesaian administrasi pascapersetujuan RKAB, kemudian aktivasi kembali kontrak jasa pertambangan dengan kontraktor alat berat, kapal tongkang dan solar.

Setelah itu, alat berat dan tenaga kerja kontraktor akan dimobilisasi ke lokasi tambang.

GTBO selanjutnya melakukan pemeriksaan kesiapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), memperbaiki jalan tambang atau hauling road, serta menyiapkan sarana pendukung sebelum masuk ke tahap pengupasan tanah penutup (overburden).

BACA JUGA:

Bahlil Wajibkan Perusahaan Tambang Utamakan Jasa Pertambangan Lokal - ibukotakini.com

Tahap berikutnya adalah penambangan dan pengangkutan batubara menuju stockpile atau pelabuhan.

Target Produksi 400.000-500.000 Ton

Meski mendapatkan persetujuan produksi maksimal 817.900 metrik ton (MT), GTBO hanya memperkirakan produksi sekitar 400.000-500.000 MT hingga Desember 2026.

Artinya, target tersebut setara sekitar 48,91 persen hingga 61,13 persen dari kuota produksi yang disetujui.

Yanry Musa mengatakan, kuota 817.900 MT merupakan kuota untuk periode satu tahun penuh. Sementara persetujuan RKAB baru diterbitkan pada 25 September 2026.

Dengan demikian, GTBO secara efektif hanya memiliki waktu produksi sekitar 2,5 bulan, yakni sejak pertengahan Oktober hingga Desember 2026.

BACA JUGA:

Wagub Kaltim Targetkan Pendapatan PI 10 Persen Tembus Rp1 Triliun - ibukotakini.com

Periode tersebut juga mencakup waktu mobilisasi dan ramp-up kontraktor.

Selain itu, Oktober hingga Desember merupakan periode musim hujan, sehingga jumlah hari kerja efektif berpotensi berkurang.

GTBO menyatakan estimasi produksi 400.000-500.000 MT tersebut disusun secara konservatif dengan mempertimbangkan kapasitas peralatan kontraktor.

Karyawan Operasional Sempat Anjlok

Restart produksi juga menjadi tantangan dari sisi sumber daya manusia.

Per 31 Maret 2026, jumlah karyawan GTBO secara keseluruhan tercatat hanya 36 orang.

Jumlah tersebut turun tajam dibandingkan 97 orang per 31 Maret 2025.

Perseroan menjelaskan penurunan tersebut terjadi karena kegiatan produksi dihentikan sementara selama RKAB 2026 belum disetujui.

BACA JUGA:

Bayan Resources Cabut Force Majeure, 3 Anak Usaha Nambang Lagi - ibukotakini.com

Untuk kembali menjalankan kegiatan penambangan, GTBO tidak sepenuhnya mengandalkan perekrutan karyawan internal.

Kegiatan penambangan, pengangkutan dan pemuatan akan dilakukan oleh kontraktor jasa pertambangan yang membawa tenaga kerja dan peralatannya sendiri.

Sementara karyawan GTBO akan menjalankan fungsi pengawasan teknis, K3, perencanaan tambang dan administrasi.

Perseroan juga akan melakukan perekrutan kembali untuk memenuhi kebutuhan pada tahap persiapan produksi.

Andalkan Piutang hingga Dukungan Pemegang Saham

Selain menjual stok batubara, GTBO menyiapkan sejumlah sumber pendanaan untuk menjalankan kembali kegiatan produksi.

Salah satunya adalah sisa cicilan piutang 2026 sebesar US$4,15 juta per 31 Maret 2026 yang wajib diterima paling lambat 31 Desember 2026.

Perusahaan juga mengandalkan skema pembayaran kontraktor berdasarkan volume produksi atau cost per ton.

Dengan skema tersebut, pembayaran kepada kontraktor dilakukan setelah batubara terjual sehingga kebutuhan modal kerja di muka dapat ditekan.

BACA JUGA:

Balikpapan Jadi Pusat Remanufaktur XCMG Pertama di Luar China - ibukotakini.com

GTBO juga membuka opsi memperoleh uang muka dari pembeli berdasarkan kontrak penjualan apabila disepakati.

Selain itu, terdapat dukungan dari pemegang saham pengendali.

“Dukungan yang diberikan oleh pemegang saham pengendali kepada Perseroan tidak hanya berupa dukungan pendanaan dalam bentuk setoran dana secara langsung, namun juga berupa dukungan dalam upaya mempercepat penyelesaian dan penerimaan pembayaran atas piutang lain-lain, termasuk membantu Perseroan dalam melakukan komunikasi dan negosiasi dengan pihak-pihak terkait,” terang Yanry Musa.

Menurut Yanry, hingga tanggal tanggapan kepada Bursa, dukungan pemegang saham pengendali terutama berupa dukungan noncash, khususnya fasilitasi percepatan penagihan dan penyelesaian piutang serta komunikasi dan negosiasi dengan pihak terkait.

Dukungan tersebut, kata dia, membantu memperkuat likuiditas perusahaan, meskipun manfaatnya tidak seluruhnya tercermin sebagai penerimaan dana secara langsung ke rekening Perseroan.

Restart Produksi Jadi Titik Balik GTBO

Dengan persetujuan RKAB, GTBO kini memasuki tahap penting untuk kembali mengaktifkan operasi pertambangannya.

Namun, perusahaan menghadapi jendela produksi yang relatif pendek hingga akhir 2026. Karena itu, penjualan stok batubara, pencairan piutang, skema pembayaran kontraktor berbasis volume serta dukungan pemegang saham menjadi bagian penting dari strategi GTBO menjaga kebutuhan modal kerja selama proses restart.***