Nilai Tukar Pertani Kaltim Turun Tipis di Akhir 2025
Kutai Timur

Sawit atau Padi? Ini Kiat Kutim Menjaga Ekonomi dan Ketahanan Pangan

  • Ketergantungan Beras dari Jawa dan Sulawesi, Tinggi
Kutai Timur
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM – Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi peluang bagi petani di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur. Namun, di tengah prospek ekonomi sawit yang semakin menarik, pemerintah daerah menghadapi tantangan lain: mempertahankan lahan sawah untuk mengejar swasembada beras.

Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi mengingatkan agar daya tarik ekonomi sawit tidak mendorong masyarakat mengalihkan lahan pangan menjadi perkebunan. Menurutnya, sawit dan pangan memiliki fungsi strategis yang berbeda sehingga keduanya perlu dikembangkan secara seimbang.

Pesan tersebut disampaikan Mahyunadi saat menghadiri Lokakarya Penguatan Akses Petani Swadaya terhadap Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Hotel Victoria Sangatta, Kamis (3/9/2026).

Mahyunadi mengatakan, pemerintah perlu memastikan sektor pertanian pangan tetap mampu memberikan penghasilan yang layak bagi petani. Salah satu caranya dengan meningkatkan produktivitas dan memberikan dukungan pengolahan lahan.

BACA JUGA:

Berapa Jumlah Pabrik Sawit di Kaltim? Dinas Perkebunan Ungkap Angkanya - ibukotakini.com

“Kita menyampaikan kepada masyarakat bahwa sawah sebenarnya bisa lebih untung daripada sawit sepanjang diberikan bantuan pengolahannya oleh pemerintah,” ujar Mahyunadi.

Ketergantungan Beras Jadi Perhatian

Menurut Mahyunadi, mempertahankan lahan sawah bukan hanya berkaitan dengan sektor pertanian, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan Kutim dan Kalimantan Timur.

Saat ini kebutuhan beras di Kaltim masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, termasuk Pulau Jawa dan Sulawesi. Kondisi tersebut dinilai berisiko apabila terjadi gangguan distribusi.

“Kalau pasokan dari Jawa atau Sulawesi putus, maka kita tidak bisa makan. Maka tetap harus mempertahankan lahan sawah,” tegasnya.

BACA JUGA:  

Harga Kalah dari Jawa, Ini Kiat Pemkab Kutim Dukung Peternak Ayam Lokal - ibukotakini.com

Karena itu, peningkatan produksi sawit di Kutim dinilai lebih tepat diarahkan melalui peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada, bukan terus membuka lahan baru yang berpotensi mengurangi ruang produksi pangan.

Salah satu strategi yang didorong pemerintah ialah melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

PSR Jadi Jalan Tengah Pengembangan Sawit

Kepala Dinas Perkebunan Kutim Arief Nur Wahyuni mengatakan sejumlah perkebunan sawit di wilayah Bengalon dan Wahau telah memasuki atau mendekati usia 25 tahun. Kondisi tersebut membuat peremajaan tanaman menjadi kebutuhan mendesak.

Lokakarya yang digelar bersama mitra dan Solidaridad itu bertujuan mempersiapkan petani serta koperasi agar memahami persyaratan pelaksanaan PSR.

BACA JUGA:

Lewat Koperasi, Peternak Ayam Bengalon akan Alihkan Penjualan ke Daging Beku - ibukotakini.com

Pemerintah pusat menyediakan dukungan pembiayaan PSR sebesar Rp60 juta per hektare, dengan luas maksimal empat hektare sesuai ketentuan.

Namun, Arief mengakui pembiayaan tersebut belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan petani. Tantangan terbesar muncul ketika tanaman lama ditebang dan tanaman baru belum menghasilkan.

Petani harus melewati masa tunggu sekitar tiga hingga tiga setengah tahun sebelum tanaman baru mulai berproduksi.

“Karena itu, penguatan koperasi dan perjanjian kerja sama dengan perusahaan memiliki arti penting agar proses replanting dapat berlangsung secara berkelanjutan,” kata Arief.

BACA JUGA:

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tertinggi Tembus Rp3.561 per Kg - ibukotakini.com

Pemerintah juga mendorong petani memperkuat koperasi atau kelompok tani agar memiliki posisi tawar lebih baik dalam memperoleh pembiayaan, sarana produksi hingga akses pasar.

Pada 2026, Dinas Perkebunan Kutim mendampingi sembilan koperasi dalam proses sertifikasi ISPO dan dua koperasi menuju RSPO.

Petani Siapkan Tabungan untuk Masa Tanpa Panen

Persoalan masa tanpa panen juga dirasakan petani sawit. Ratno, anggota Koperasi Mitra Mandiri Jaya Bersama di Desa Citra Manunggal Jaya, Kecamatan Kaliorang, mengatakan sebagian tanaman anggota koperasi ditanam pada 2005–2007.

Tanaman tersebut kini telah berusia lebih dari dua dekade dan membutuhkan peremajaan.

BACA JUGA:

Produksi Padi Kaltim Sudah Tembus 60 Persen - ibukotakini.com

Ratno berharap program PSR dapat membantu petani mendapatkan bibit berkualitas sekaligus memperbaiki tata kelola perkebunan. Namun, persoalan utama tetap pada biaya hidup selama tanaman baru belum menghasilkan.

Koperasinya mencoba mengantisipasi kondisi tersebut melalui tabungan replanting. Sebagian hasil panen anggota disisihkan sebagai cadangan yang nantinya dapat digunakan selama masa tanaman belum produktif.

“Misalnya tabungannya Rp50 juta, masa tanam tiga tahun berarti dibagi 36. Jadi setiap bulan mereka akan dapat dari tabungannya sendiri,” jelas Ratno.

Meski demikian, ia berharap pemerintah dapat membantu koperasi mendapatkan akses permodalan dengan bunga lebih rendah. Perbaikan infrastruktur, khususnya jalan dan transportasi, juga diperlukan untuk mendukung kelancaran distribusi hasil perkebunan.

Hilirisasi Sawit Harus Beri Nilai Tambah bagi Kutim

Mahyunadi juga menekankan bahwa keberhasilan sektor sawit tidak cukup diukur dari luas perkebunan dan volume produksi.

Nilai tambah dari komoditas tersebut harus semakin banyak dinikmati masyarakat Kutim melalui penguatan industri hilir.

Ia berharap keberadaan industri pengolahan, termasuk refinery di Bualbual, dapat membuka peluang lebih besar bagi koperasi, perusahaan daerah, dan pelaku usaha lokal.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam rantai industri hilir sawit.

BACA JUGA:

Kaltim Usul Tambah 13.000 Hektare Cetak Sawah Baru - ibukotakini.com

Bagi Kutim, pengembangan sawit dan perlindungan lahan pangan pada akhirnya harus berjalan beriringan.

Sawit tetap dapat menjadi motor ekonomi melalui peningkatan produktivitas, peremajaan kebun dan hilirisasi. Namun, lahan sawah harus dipertahankan sebagai fondasi ketahanan pangan dan upaya menuju swasembada beras.

Tantangannya adalah memastikan peningkatan kesejahteraan petani sawit tidak dicapai dengan mengorbankan lahan pangan.

Dengan strategi tersebut, Kutim diharapkan mampu membangun sektor perkebunan yang produktif sekaligus menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.***