
Serangan AS-Israel ke Iran, Saham Energi RI Menguat
- Sentimen kenaikan harga minyak turut menggerakkan saham energi di Bursa Efek Indonesia
Tren
IBUKOTAKINI.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara terkoordinasi ke sejumlah wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Operasi preemptive strike berskala besar itu disebut menargetkan fasilitas nuklir dan kapabilitas rudal balistik Teheran. Titik ledakan dilaporkan terjadi di Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, hingga Kermanshah.
Presiden AS Donald Trump, dikutip Bloomberg, menyatakan operasi tersebut bertujuan membongkar rudal Iran dan mencegah ancaman nuklir.
Otoritas Iran merespons dengan menutup wilayah udaranya. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa.
Eskalasi bersenjata ini diperkirakan memicu gejolak pasar komoditas global. Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah Brent ditutup di kisaran US$72-73 per barel pada Jumat, naik 2-3 persen menjelang serangan.
Analis BloombergNEF Yiwen Yin dan Tai Liu menyebut pasar belum menunjukkan aksi beli panik yang ekstrem. Namun, harga berpotensi menyentuh US$80 per barel apabila terjadi gangguan pasokan fisik secara nyata.
BACA JUGA:
CFX Pangkas Biaya Bursa Kripto 50%, Saingi Platform Global - ibukotakini.com
Risiko terbesar muncul jika fasilitas ekspor Pulau Kharg terdampak atau terjadi blokade jalur logistik Selat Hormuz. Jika skenario terburuk terjadi, minyak Brent diproyeksikan dapat menembus US$91 per barel pada akhir 2026.
Saham Migas RI Kompak Hijau
Sentimen kenaikan harga minyak turut menggerakkan saham energi di Bursa Efek Indonesia. Pada penutupan akhir pekan, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melonjak 8,33 persen ke Rp1.755 per saham.
Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 2,38 persen ke Rp1.720, sementara PT Elnusa Tbk (ELSA) menguat 0,59 persen ke Rp850.
Penguatan juga terjadi pada emiten infrastruktur energi lainnya. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) naik 2,28 persen ke Rp4.490, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melesat 4 persen ke Rp1.300, serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menguat 3,91 persen ke Rp2.390.
Pola penguatan saham energi saat konflik Timur Tengah memuncak bukan hal baru. Pada April dan Oktober 2024, lonjakan harga minyak juga mendorong saham-saham migas bergerak melawan arus pelemahan indeks.
Investor kini mencermati potensi gangguan pasokan energi global jika konflik meluas. Pergerakan harga minyak pada awal pekan diperkirakan menjadi penentu arah lanjutan saham sektor energi di pasar domestik. ***
