
Siasat Kutai Timur Hadapi Penurunan Industri Tambang Batu Bara
- Percepat Hilirasi Komoditas Daerah
Kutai Timur
IBUKOTAKINI.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menjalankan strategi menggeser ketergantungan ekonomi dari sektor pertambangan ke sektor industri pengolahan.
Langkah ini diambil menyusul kebijakan nasional yang berdampak pada penurunan produksi batu bara, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Meski produksi batu bara melambat, data menunjukkan secercah harapan pada sektor non-tambang.
Pertumbuhan ekonomi Kutai Timur tanpa batu bara pada 2025 tercatat melonjak signifikan hingga 11 persen, jauh melampaui pertumbuhan ekonomi dengan batu bara yang hanya menyentuh angka 1,22 persen.
BACA JUGA:
Kuota RKAB Dipangkas, 5 Raksasa Tambang di Kutai Timur Terancam PHK
Hilirisasi Sebagai Benteng Ekonomi Daerah
Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekobang) Seskab Kutim, Noviari Noor, mengungkapkan bahwa penguatan hilirisasi komoditas unggulan menjadi siasat utama agar nilai ekonomi tetap berputar di dalam daerah.
Pemerintah tidak ingin Kutim terus-menerus hanya mengekspor bahan mentah yang nilai tambahnya dinikmati pihak luar.
Komoditas seperti pisang, kakao, aren genjah, dan nanas diidentifikasi memiliki potensi besar untuk diolah lebih lanjut.
Melalui hilirisasi, pemerintah menargetkan terciptanya lapangan kerja baru dan produk olahan yang memiliki daya saing di pasar global.
BACA JUGA:
Pemkab Kutim Asuransikan Ribuan Hektare Sawah, Lindungi Petani
Integrasi Data dan Penguatan Ekosistem Ekspor
Selain fokus pada pengolahan fisik produk, pemerintah juga membenahi sisi manajerial melalui integrasi data di Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).
Akurasi data produksi dari pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dinilai menjadi dasar vital dalam menyusun kebijakan akses pasar ekspor yang tepat sasaran.
Kepala Disperindag Kaltim, Heni Purwaningsih, menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran menuntut pemerintah untuk lebih fokus pada program yang memberikan dampak langsung.
Salah satu instrumen yang dioptimalkan adalah Ekspor Center Kalimantan Timur, yang berfungsi memberikan pendampingan bagi pelaku usaha lokal dalam mencari mitra dagang internasional yang kredibel.
Diversifikasi Produk: Dari Pakan Ternak Hingga Serat Nanas
Siasat lain yang ditempuh adalah diversifikasi produk berbasis limbah dan potensi lokal.
BACA JUGA:
Gara-gara Limbah, Operasional 12 SPPG di Kutim Dihentikan Sementara
Pada 2025, pembangunan rumah produksi pakan ternak di Kalimantan Timur mulai memanfaatkan bahan baku dari petani lokal, seperti jagung dan bungkil sawit, guna menekan biaya produksi sektor peternakan.
Inovasi juga merambah pada pemanfaatan limbah daun nanas menjadi serat kain yang bernilai ekonomi tinggi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Pemkab Kutim dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau langsung kesiapan komoditas seperti gula semut, tepung pisang, hingga produk kreatif lainnya yang siap menembus pasar internasional.
Visi ini sejalan dengan target jangka panjang menjadikan Kutai Timur sebagai pusat hilirisasi dalam dua dekade mendatang, memastikan ekonomi daerah tetap tangguh dan mandiri meski di tengah surutnya kejayaan industri tambang.***
