Pemerintah Kota Balikpapan mencatat peningkatan nilai dalam evaluasi Smart City 2025, meski kenaikannya tergolong tipis
Balikpapan

Skor Smart City Balikpapan Naik, Fokus ke Dampak Nyata

  • Hampir seluruh dimensi Smart City dinilai, mulai dari smart governance, smart economy, smart living, smart society, smart environment, hingga smart branding
Balikpapan
Ambarwati

Ambarwati

Author

IBUKOTAKINI.COM - Pemerintah Kota Balikpapan mencatat peningkatan nilai dalam evaluasi Smart City 2025, meski kenaikannya tergolong tipis. 

Evaluator nasional menekankan bahwa penilaian tak lagi sekadar angka, melainkan sejauh mana rekomendasi tahun sebelumnya ditindaklanjuti dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Balikpapan, Agus Budi Prasetyo, mengatakan evaluasi tahun ini menaruh perhatian besar pada hasil konkret atau outcome, bukan hanya keberadaan aplikasi dan inovasi teknologi.

“Evaluator menanyakan rekomendasi tahun sebelumnya sudah sampai mana ditindaklanjuti. Alhamdulillah secara umum dinilai baik dan secara angka kita juga naik, meski kecil, sekitar 0,09,” ungkap Agus usai sesi evaluasi di Auditorium Balai Kota Balikpapan, Selasa (3/1/2026).

Menurut Agus, yang terpenting bukan skor semata, melainkan akumulasi kinerja seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang berdampak langsung pada kualitas layanan publik. 

Ia mencontohkan capaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), nilai Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), serta akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai cerminan implementasi Smart City lintas sektor.

BACA JUGA:

Pemkot Balikpapan Turunkan Reklame Tak Berizin dan Menunggak - ibukotakini.com

“Itu bukan kerja satu OPD, tetapi akumulasi seluruh sistem pemerintahan dalam konteks Smart City,” tegasnya.

Dalam evaluasi tersebut, hampir seluruh dimensi Smart City dinilai, mulai dari smart governance, smart economy, smart living, smart society, smart environment, hingga smart branding. 

Selain itu, evaluator juga menyoroti program quick win, yakni inovasi praktis yang manfaatnya bisa langsung dirasakan warga tanpa proses birokrasi panjang.

“Quick win ini yang dilihat, kegiatan-kegiatan yang langsung berdampak ke masyarakat. Itu ada di semua dimensi,” jelas Agus.

Ia menambahkan, pendekatan Smart City di Balikpapan kini bergeser dari sekadar digitalisasi layanan menuju peningkatan kualitas hidup warga. Konsep tersebut disinergikan dengan visi “Balikpapan Nyaman”, di mana teknologi ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan.

“Smart City bukan hanya soal aplikasi. Yang utama bagaimana praktik di lapangan memudahkan masyarakat, memberi kenyamanan, dan benar-benar bermanfaat,” ujarnya.

BACA JUGA:

Kelurahan Madani Balikpapan Diterapkan Mulai 2027 - ibukotakini.com

Evaluasi 2025 juga menandai berakhirnya master plan Smart City periode sebelumnya. Ke depan, pemerintah kota akan menyusun master plan baru yang terintegrasi langsung dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) agar kebijakan lebih terarah dan berkelanjutan.

Meski mencatat peningkatan nilai, Agus mengakui tidak ada titik “100 persen Smart City” yang benar-benar final. Ekspektasi masyarakat, kata dia, akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan kebutuhan layanan publik.

“Kalau bicara 100 persen itu sulit, karena kebutuhan masyarakat terus naik. Tahun ini bagus, tahun depan ekspektasinya lebih tinggi,” katanya.

Karena itu, evaluator juga menanyakan inovasi apa yang akan dikembangkan ke depan, bukan hanya mempertahankan capaian lama. Agus menyebut peluang Balikpapan kembali meraih penghargaan Smart City terbuka, namun menegaskan penghargaan bukan tujuan utama.

“Penghargaan itu motivasi. Yang paling penting dampaknya dirasakan masyarakat,” pungkasnya. ***