
SPPI Jadi Strategi Ketahanan Nasional Berbasis Pangan dan Generasi Sehat
- SPPI upaya menyatukan sistem pertahanan dengan pemberdayaan sosial berbasis pangan dan gizi
Kabar Ibu Kota
IBUKOTAKINI.COM - Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan menggulirkan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional berbasis pangan dan pembangunan manusia.
Kodam VI/Mulawarman mengambil peran penting dalam menyiapkan ribuan lulusan untuk menjadi ujung tombak di lapangan. Sebanyak 1.748 peserta SPPI di wilayah Kodam VI/Mulawarman dinyatakan lulus dan resmi menjadi Komponen Cadangan (Komcad) usai menjalani pelatihan tiga bulan di Kalimantan Timur, Selatan, dan Tengah.
“Selama dua bulan mereka digembleng lewat pelatihan dasar militer, lalu satu bulan pelatihan manajerial. Kini mereka siap mengemban tugas mulia sebagai pelaksana program makan bergizi gratis,” kata Kepala Staf Kodam VI/Mulawarman Brigjen TNI Ari Aryanto saat apel penutupan di Balikpapan, Sabtu 12 Juli 2025.
Dari total tersebut, 594 peserta mengikuti pelatihan di Balikpapan di bawah koordinasi Direktorat Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Kejuruan (Dokdikjur) Rindam VI/Mulawarman.
Para peserta selanjutnya akan ditugaskan memimpin dapur sehat dan bergizi di seluruh Indonesia.
BACA JUGA:
Wagub Kaltim Apresiasi KPC Sulap Void Tambang Jadi Sumber Air Bersih - ibukotakini.com
“Ini adalah bagian dari pembangunan ketahanan nasional yang berlapis, dimulai dari ketahanan pangan, pendidikan gizi, hingga pembentukan karakter generasi muda,” jelas Brigjen Ari.
Ia mengatakan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi prioritas Presiden RI Prabowo Subianto tak hanya soal distribusi makanan, tapi juga soal misi kebangsaan.
Hal senada disampaikan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam sambutan yang dibacakan Brigjen Ari. Menurutnya, SPPI adalah salah satu instrumen transformasi sistem pertahanan negara menuju konsep total defense.
“Ini program jangka panjang, menyatu dengan misi besar Indonesia Emas 2045. Mereka akan hadir di masyarakat, membawa nilai kepemimpinan, disiplin, dan pengabdian,” kata Sjafrie.
Secara nasional, SPPI batch 3 diikuti 30.018 peserta yang tersebar di 15 satuan pelatihan (kolat). Pendidikan dasar militer dilaksanakan sejak 14 April hingga 11 Juni, dilanjutkan dengan pelatihan manajerial hingga 12 Juli 2025.
Kepala Regional SPPI Kalimantan Timur Binti Maulina Putri menyatakan, seluruh lulusan siap ditugaskan, baik di wilayah asal maupun ke daerah yang membutuhkan tenaga tambahan.
“Distribusinya fleksibel. Intinya mereka siap diturunkan di mana pun, sesuai kebutuhan dapur dan wilayah,” ujarnya.
SPPI bukan sekadar pelatihan kerja, melainkan upaya menyatukan sistem pertahanan dengan pemberdayaan sosial berbasis pangan dan gizi. ***
