
Strategi Peternak Raup Cuan, dari Jasa Perawatan hingga Olah Kotoran
- Permintaan Pupuk Organik Terus Meningkat
UMKM
IBUKOTAKINI.COM – Kandang milik Sumar (53) di kawasan Jalan H Nanang Kasim 2, Kanal 2, Sangatta Utara, tampak lebih sibuk dibanding hari-hari biasa menjelang Iduladha 1447 Hijriah.
Lenguhan sapi dan embikan kambing bersahut-sahutan memenuhi area peternakan Raja Kambing Sangatta (RKS), usaha ternak rakyat yang kini berkembang menjadi salah satu penyedia hewan kurban lokal di Kutai Timur (Kutim).
Di tengah meningkatnya kebutuhan hewan kurban, Sumar berhasil memanfaatkan momentum Iduladha bukan hanya lewat penjualan ternak, tetapi juga dengan menghadirkan berbagai layanan tambahan yang mendatangkan keuntungan baru.
Mulai dari jasa perawatan hewan, penyembelihan, hingga pengolahan limbah ternak menjadi pupuk kompos organik.
BACA JUGA:
Industri Pengolahan Kaltim Tumbuh Pesat, PDRB 2025 Tembus Rp42,7 Triliun - ibukotakini.com
Bekas Tambang KPC Disulap Jadi Kebun Jagung - ibukotakini.com
Pria yang sebelumnya bekerja puluhan tahun di PT Kaltim Prima Coal (KPC) itu mengaku penjualan hewan kurban tahun ini melonjak cukup signifikan dibanding tahun lalu.
“Alhamdulillah tahun ini penjualan sapi meningkat dua kali lipat. Sekarang sudah terjual 14 ekor, tahun lalu hanya 7 ekor,” ujar Sumar saat ditemui, Jumat (29/5/2026).
Di peternakannya, sapi dijual dengan harga mulai Rp17 juta hingga di atas Rp30 juta per ekor. Sementara kambing dipasarkan mulai Rp1 juta sampai Rp9 juta tergantung ukuran dan kualitas ternak.
Menurut Sumar, peningkatan penjualan bukan semata dipengaruhi musim kurban, melainkan juga meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap peternak lokal di Kutim.
BACA JUGA:
DPKH Kaltim Bagikan Cara Aman Simpan Daging Kurban - ibukotakini.com
DKP3 Balikpapan Pastikan Hewan Kurban Bebas Penyakit - ibukotakini.com
Usaha peternakan itu sebenarnya sudah mulai ia rintis sejak 2021 sebagai persiapan menghadapi masa pensiun dari industri tambang. Setelah resmi purnatugas pada 2024, ia mulai fokus mengembangkan usaha ternak yang kemudian diresmikan dengan nama Raja Kambing Sangatta pada 2026.
Kini, pola usaha yang dibangun tidak hanya bertumpu pada penjualan hewan kurban.
Sumar menyediakan jasa penitipan dan perawatan hewan kurban bagi warga yang tidak memiliki cukup lahan maupun waktu untuk memelihara ternak sebelum hari penyembelihan.
Selain itu, RKS juga melayani jasa penyembelihan hewan saat Iduladha. Layanan tersebut banyak diminati masyarakat karena dinilai lebih praktis dan efisien.
BACA JUGA:
Kabar Gembira bagi Peternak Kukar! Desa Loleng Kini Punya Pabrik Pakan Sendiri - ibukotakini.com
Siasat Kutai Timur Hadapi Penurunan Industri Tambang Batu Bara - ibukotakini.com
“Kalau ditekuni, peternakan ini sebenarnya sangat potensial. Apalagi kebutuhan daging dan pupuk organik terus ada,” katanya.
Potensi keuntungan juga datang dari limbah peternakan. Kotoran kambing yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini diolah menjadi pupuk kompos organik dan dijual Rp25 ribu per karung.
Permintaan pupuk organik, kata dia, terus meningkat seiring makin banyak masyarakat yang mulai beralih menggunakan media tanam ramah lingkungan.
“Permintaan pupuk kompos sangat tinggi. Kadang kami kewalahan memenuhi pesanan,” ujarnya.
BACA JUGA:
UMKM Susu Kambing Ras Farm Tumbuh Pesat Berkat Dukungan KUR BRI - ibukotakini.com
LPH DPKH Kaltim Percepat Akreditasi Jaminan Halal Produk Hewani - ibukotakini.com
Di antara puluhan ternak yang dipelihara, seekor kambing pejantan bernama “Barongsai” menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Kambing berusia tiga tahun itu memiliki postur besar dan tambun sehingga kerap mencuri perhatian warga yang datang memilih hewan kurban.
Kisah Sumar memperlihatkan bagaimana peternakan rakyat mulai berkembang menjadi alternatif ekonomi berkelanjutan di daerah penyangga industri ekstraktif seperti Kutim. ***
