
Tak Ada Kata Genosida di Pidato Prabowo soal Palestina di PBB
- Akan Akui Israel Jika Palestina Diakui
Tren
IBUKOTAKINI.COM - Presiden Prabowo Subianto untuk pertama kalinya berbicara di panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai kepala negara, Senin, 22 September 2025.
Di hadapan forum tinggi itu, Prabowo menyuarakan keprihatinan mendalam Indonesia atas krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza.
Namun, dari seluruh isi pidato berdurasi sekitar 10 menit tersebut, ada yang terasa menonjol sekaligus janggal: tak sekali pun kata “genosida” keluar dari mulutnya.
Istilah yang kerap dipakai aktivis, pengamat, bahkan beberapa pemimpin negara untuk menggambarkan agresi Israel di Gaza itu absen sama sekali.
BACA JUGA:
Sebagai gantinya, Prabowo memilih diksi lebih moderat: “tragedi tak tertahankan”, “ribuan nyawa tak berdosa terbunuh”, “kelaparan mengancam”, dan “bencana kemanusiaan sedang terjadi di depan mata kita”. Indonesia, kata Prabowo, mengutuk semua tindakan kekerasan terhadap warga sipil.
Dalam pidato itu, Prabowo menegaskan kembali dukungan Indonesia pada solusi dua negara. Hanya jalan itu, menurutnya, yang bisa membawa perdamaian abadi di Timur Tengah.
Ia bahkan menyampaikan tawaran yang tak biasa: begitu Israel mengakui kemerdekaan Palestina, Indonesia akan segera mengakui keberadaan Negara Israel.
“Kenegaraan harus berarti perdamaian, pengakuan harus berarti peluang nyata menuju perdamaian abadi,” ujar Prabowo.
BACA JUGA:
Pernyataan tersebut menandai sikap politik luar negeri Indonesia yang lebih terbuka terhadap kompromi.
Jika di era Presiden Joko Widodo, retorika tentang Palestina kerap menekankan solidaritas penuh tanpa menyinggung Israel, Prabowo mengambil posisi “jalan tengah” yang mencoba mengikat keduanya: kemerdekaan Palestina sekaligus jaminan keamanan Israel.
Mengutip Deklarasi New York
Prabowo menyebut Deklarasi New York—dokumen hasil kesepakatan sejumlah negara besar—sebagai kerangka menuju perdamaian. Ia memuji negara-negara seperti Prancis, Kanada, Inggris, Portugal, dan Australia yang telah mengakui Palestina. Menurutnya, mereka berdiri di “sisi sejarah yang benar.”
Kepada negara-negara yang belum mengambil langkah serupa, Prabowo memberi pesan keras: “Sejarah tidak tinggal diam. Kita harus mengakui Palestina sekarang.”
Selain itu, Indonesia juga menyatakan kesediaan untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian jika diminta.
“Kami siap mengambil bagian dalam perjalanan menuju perdamaian ini,” kata Prabowo, sebelum menutup pidatonya dengan seruan tiga kali: “Damai, damai sekarang, damai segera.”
BACA JUGA:
Kendati pesan perdamaian Prabowo mendapat sorotan positif, absennya istilah “genosida” memicu tanda tanya. Padahal, dalam setahun terakhir, sejumlah resolusi di Dewan HAM PBB, laporan LSM internasional, hingga sikap beberapa negara sudah menuding Israel melakukan genosida terhadap rakyat Gaza.
Di dalam negeri, publik Indonesia terbiasa dengan narasi keras menyoal Palestina. Istilah “genosida” telah masuk ke ruang-ruang diskusi, dari masjid hingga media sosial. Tak heran, pilihan kata Prabowo dianggap lebih “diplomatis” dan berhati-hati.
Boleh jadi, langkah itu adalah strategi politik luar negeri: menjaga agar Indonesia tetap diterima di semua meja perundingan, tanpa kehilangan komitmen pada perjuangan rakyat Palestina.
Dengan tak menggunakan istilah yang sarat muatan hukum internasional itu, Prabowo bisa membuka ruang dialog lebih luas, termasuk dengan negara-negara yang selama ini berada di belakang Israel. ***
