
Tak Punya Biaya, Puluhan ODGJ Berat Dirawat di Rumah
- BMH Kirim Bantuan untuk Keluarga ODGJ
Komunitas Kita
IBUKOTAKINI.COM – Sebanyak 20 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) kategori berat tercatat berada dalam pemantauan Puskesmas Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan pangan dan perawatan sebagian keluarga masih banyak bergantung pada kepedulian kerabat, tetangga, serta bantuan dari berbagai pihak.
Kondisi itu menjadi perhatian Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Yayasan Berbagi Senyum Paser (YBSP). Keduanya menyalurkan bantuan kepada 10 warga ODGJ dari keluarga dhuafa di Desa Muara Langon, Selerong, dan Batu Butok, Sabtu (3/10/2026).
Bantuan disalurkan langsung ke rumah masing-masing penerima manfaat. BMH menyediakan 50 kilogram beras, dengan masing-masing penerima memperoleh 5 kilogram. Sementara YBSP melengkapi bantuan dengan telur, mi instan, serta pakaian layak pakai.
BACA JUGA:
Penanganan ODGJ di Balikpapan Masih Berulang - ibukotakini.com
Penyaluran tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas manfaat zakat, infak dan sedekah (ZIS), sekaligus membantu keluarga yang selama ini menjadi pengasuh utama anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa berat.
H. Rudiansyah dari Puskesmas Kecamatan Muara Komam mengapresiasi kepedulian tersebut. Menurutnya, keterlibatan pihak lain dalam membantu keluarga ODGJ dapat meringankan beban yang selama ini mereka tanggung.
“Kami sangat senang, lega hati ini, karena bertambah pihak lain yang peduli kepada ODGJ di tempat ini. Sangat meringankan beban keluarga ODGJ kami. Di Kecamatan Muara Komam ini ada 20 ODGJ kategori berat,” ujarnya.
Banyak Dirawat Ibu
Kondisi keluarga penerima bantuan juga menunjukkan beratnya beban pengasuhan. Dari tujuh rumah penerima manfaat yang didatangi langsung tim, sebagian besar ODGJ dirawat oleh ibu mereka.
BACA JUGA:
Pemkab PPU Gelontorkan Rp600 Juta, Bangun Rumah Singgah untuk ODGJ - ibukotakini.com
Tim tidak menemukan sosok suami, ayah, maupun laki-laki dewasa yang menjadi pengasuh utama di rumah-rumah yang dikunjungi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan sehari-hari keluarga semakin berat, terutama bagi keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi terbatas.
Sebagian besar penerima manfaat juga telah mengalami gangguan kesehatan jiwa selama lebih dari 10 tahun. Usia mereka berada pada rentang sekitar 30 hingga 45 tahun.
Kondisi tempat tinggal penerima bantuan turut menggambarkan keterbatasan ekonomi keluarga. Sejumlah rumah yang didatangi berada dalam kondisi sederhana dengan fasilitas yang terbatas.
Salah satu keluarga bahkan harus menghadapi beban ganda. Seorang ibu lanjut usia yang merawat anaknya yang mengalami gangguan jiwa juga menderita stroke pada bagian tubuh sebelah kanan.
BACA JUGA:
Tangani ODGJ, Dinas Sosial Balikpapan Tambah Shelter - ibukotakini.com
Keluarga tersebut tinggal di rumah kontrakan dengan biaya sekitar Rp500 ribu per bulan, ditambah kebutuhan listrik sekitar Rp200 ribu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka masih mengandalkan bantuan kerabat dan tetangga.
Dalam kondisi tersebut, makanan sehari-hari juga kerap terbatas. Sang anak disebut sering hanya mengonsumsi mi instan dan meminta rokok.
Kisah Kamsiah
Salah satu penerima manfaat adalah Kamsiah, 67 tahun, ibu dari Kastalani yang mengalami gangguan jiwa.
Kamsiah mengaku bersyukur atas bantuan yang datang langsung ke rumahnya. Kondisi ekonominya membuat dirinya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Tarimakasihlah, pian kemari membawakan sembako, ulun pang kada kawa lai bagawi, kadada lagi pang duit,” kata Kamsiah.
BACA JUGA:
BMH Kaltim Salurkan Alat Produktif untuk 15 Warga Kampung Zakat Balikpapan - ibukotakini.com
Sebelumnya, Kamsiah diketahui pernah bekerja sebagai pengemis di jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat ini, YBSP turut memberikan bantuan sekitar Rp300 ribu per bulan untuk membantu kebutuhan keluarganya.
Bagi keluarga seperti Kamsiah, bantuan pangan menjadi salah satu penopang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mengurangi beban pengasuhan anggota keluarga dengan gangguan jiwa.
Tetap dalam Pemantauan Puskesmas
Para ODGJ kategori berat di Muara Komam tetap mendapatkan pemantauan dari Puskesmas setempat. Mereka juga rutin mendapatkan pengobatan sesuai penanganan medis yang diberikan.
Pemantauan tersebut penting untuk memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terkendali dan pengobatan dapat berlangsung secara teratur.
Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu tantangan dalam proses perawatan jangka panjang. Karena itu, dukungan sosial dari masyarakat dan lembaga filantropi dinilai dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar.
BACA JUGA:
Santri Tahfiz Bahrul Ilmi Berbagi Kelas, BMH Bantu Bangun Ruang Belajar - ibukotakini.com
Ketua YBSP Suparno menyampaikan terima kasih kepada BMH atas dukungan dan kolaborasi dalam kegiatan tersebut. Ia berharap kerja sama untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dapat terus berlanjut.
“Kami berterima kasih atas dukungan BMH. Semoga kolaborasi ini bisa terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat yang dapat dibantu,” ujarnya.
Tempuh 90 Kilometer
Untuk menjangkau penerima manfaat, tim BMH Paser harus menempuh perjalanan sekitar 90 kilometer atau dua jam perjalanan menuju wilayah Muara Komam.
Penyaluran dilakukan dengan mendatangi rumah penerima manfaat satu per satu. Perjalanan menuju lokasi berlangsung dalam kondisi cuaca panas dan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di jalur Kaltim-Kalsel.
BACA JUGA:
BMH Kirim 5 Ribu Liter Air Bersih Bantu Warga Gunung Bahagia - ibukotakini.com
Dari total 10 penerima manfaat yang menjadi sasaran program, tujuh di antaranya dapat dikunjungi langsung oleh tim. Satu penerima manfaat tidak dapat ditemui karena akses menuju rumahnya digunakan untuk kegiatan pernikahan.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyaluran bantuan pangan. Kolaborasi BMH dan YBSP juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kepedulian terhadap keluarga yang menghadapi persoalan kesehatan jiwa sekaligus keterbatasan ekonomi.***
