
Teluk Balikpapan Mirip Singapura, Rudy Mas’ud Tawarkan ke Investor
- Ekonomi Biru dan Peluang Ekspor Perikanan
Samarinda
IBUKOTAKINI.COM — Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menawarkan Teluk Balikpapan sebagai salah satu kawasan potensial untuk investasi industri, energi, dan logistik laut.
Kawasan ini dinilai memiliki keunggulan berupa kilang minyak berkapasitas besar, pelabuhan internasional, serta akses strategis menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).
Tawaran tersebut disampaikan Rudy saat membuka Mahakam Investment Forum (MIF) 2026 di Kertanegara Ballroom Hotel Fugo Samarinda, Rabu (21/10/2026). Forum ini merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Kaltim, Bank Indonesia, dan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN).
“Balikpapan sangat-sangat potensial. Balikpapan seperti Singapuranya Indonesia,” kata Rudy.
BACA JUGA:
Dubes Negara Sahabat Kumpul di Kaltim, Rudy Mas’ud Buka Peluang Investasi
Menurut Rudy, Balikpapan memiliki kilang minyak dengan kapasitas 360.000 barel per hari. Teluk Balikpapan juga memiliki kedalaman yang memungkinkan kapal angkutan besar hingga 100.000 ton beroperasi, serta didukung pelabuhan laut internasional.
Selain sektor pengolahan minyak, Balikpapan memiliki aktivitas industri pengolahan batu bara, pembangkit listrik independen atau Independent Power Plant (IPP), hilirisasi nikel, serta pengolahan kelapa sawit menjadi produk turunan seperti minyak goreng dan biodiesel.
“Balikpapan juga sangat dekat dengan Ibu Kota Nusantara,” ujar Rudy.
Peluang Investasi di Maloy dan Bontang
Selain Balikpapan, Rudy menawarkan peluang investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan di Kutai Timur dan kawasan industri Bontang.
BACA JUGA:
Kaltim Masuk Lima Besar PMDN, Investasi Indonesia Tembus Rp1.539 Triliun
KEK Maloy dinilai memiliki potensi pengembangan industri berbasis batu bara, kelapa sawit, hasil perkebunan, dan manufaktur. Sementara itu, Bontang menawarkan peluang di sektor pengolahan gas, soda ash, dan bisnis kondensat.
Rudy juga menyoroti potensi bisnis transportasi dan logistik laut yang didorong besarnya produksi komoditas Kaltim.
“Produksi batu bara kita sekitar 360 juta metrik ton. Kira-kira perlu minimum 1.000 kapal. Belum lagi CPO yang rata-rata produksi 5 juta ton per tahun,” ungkapnya.
Menurut Rudy, kebutuhan pengangkutan komoditas tersebut membuka peluang investasi pada armada kapal, layanan pelabuhan, dan rantai pasok logistik.
Ekonomi Biru dan Peluang Ekspor Perikanan
Peluang lain yang ditawarkan ialah pengembangan ekonomi biru, meliputi perikanan tangkap dan budi daya, wisata bahari, energi terbarukan berbasis laut, mitigasi perubahan iklim, serta transportasi logistik laut.
Rudy menilai potensi perikanan Kaltim perlu didukung jalur distribusi ekspor yang lebih efisien. Saat ini, menurut dia, ekspor ikan dari Balikpapan masih harus melalui Surabaya atau Jakarta sebelum dikirim ke Singapura.
“Potensi perikanan kita sangat besar. Tapi sayang, ekspor ikan dari Balikpapan harus lewat Surabaya atau Jakarta dulu, sebelum ke Singapura,” katanya.
Perbaikan konektivitas logistik diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.
Investasi Kaltim Capai Rp87 Triliun pada 2025
Pemerintah Provinsi Kaltim mencatat realisasi investasi pada 2025 mencapai Rp87 triliun, meningkat dibandingkan Rp76 triliun pada 2024. Capaian tersebut menempatkan Kaltim dalam jajaran 10 besar daerah tujuan investasi di Indonesia, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam forum.
Untuk menarik investasi baru, Pemprov Kaltim menawarkan dukungan berupa kemudahan perizinan melalui sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS RBA), koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, serta insentif fiskal dan nonfiskal sesuai ketentuan.
Dukungan tersebut mencakup potensi keringanan pajak dan retribusi daerah, keringanan sewa lahan di kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri, serta penguatan infrastruktur pendukung. Pemprov Kaltim juga menyiapkan Roadmap Regional Investment Relations Unit (RIRU) 2026–2028.
Mahakam Investment Forum 2026 turut menghadirkan 11 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang telah dikurasi RIRU Kaltim. Forum ini juga menggelar business matching ekspor Kaltimpreneurs untuk memperluas akses pasar bagi produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).***
