Kebakaran Hutan dan Lahan yang terjadi di kawasan Balikpapan Selatan pada Rabu, 15 Juli 2026 Pukul 14.00 wita
Balikpapan

Titik Api Kaltim Melonjak, BMKG Siagakan Ancaman Karhutla 2026

  • BMKG mencatat titik api di Kalimantan Timur meningkat hingga 50 hotspot per hari akibat curah hujan di bawah normal
Balikpapan
Muhammad S.J

Muhammad S.J

Author

IBUKOTAKINI.COM - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur semakin nyata seiring melonjaknya jumlah titik panas (hotspot) di berbagai daerah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan di Kaltim kini berada di bawah normal, sementara puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Kondisi tersebut membuat status kewaspadaan terhadap karhutla semakin ditingkatkan. Berdasarkan pemantauan BMKG, rata-rata terdeteksi sekitar 50 hotspot setiap hari yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kalimantan Timur.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Muhsinin, mengatakan peningkatan titik panas merupakan dampak berkurangnya pasokan air akibat curah hujan yang terus menurun.

"Pasokan curah hujan saat ini memang mulai menurun dan berada di bawah angka normal. Hal ini memicu peningkatan titik panas di hampir seluruh wilayah Kaltim," terang Huda, Rabu (15/7/2026).

BMKG memetakan persebaran hotspot mulai dari wilayah selatan hingga utara Kalimantan Timur. Namun, kawasan tengah menjadi daerah dengan konsentrasi titik panas paling tinggi.

BACA JUGA:

Karhutla Kaltim Berpotensi Meningkat, Waspada Mulai 15 Juli 2026 - ibukotakini.com

Kabupaten Kutai Timur menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 27 titik, disusul Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak 15 titik.

Tak hanya itu, pada pemantauan Minggu lalu, BMKG juga mendeteksi sejumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau kategori merah di Kabupaten Berau dan kawasan Samboja. 

Titik-titik tersebut menjadi prioritas pemantauan karena memiliki potensi lebih besar berkembang menjadi kebakaran apabila kondisi lapangan mendukung.

Huda menjelaskan, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus 2026. 

“Ancaman karhutla bahkan berpotensi meningkat apabila fenomena El Nino menguat pada September hingga November sehingga memperpanjang periode kering di Kalimantan Timur,” imbuhnya.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hotspot tidak serta-merta menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan maupun lahan.

BACA JUGA:

BMKG Prediksi Kaltim Masuki Musim Kering, Waspada Karhutla - ibukotakini.com

"Hotspot hanyalah indikator awal yang menunjukkan suhu permukaan lebih tinggi dari area sekitar. Untuk memastikan apakah benar terjadi karhutla, tetap diperlukan verifikasi lapangan," tegasnya.

BMKG mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang beraktivitas di kawasan hutan, perkebunan, maupun lahan terbuka.

Pencegahan dini dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko meluasnya kebakaran saat musim kemarau mencapai puncaknya.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sengaja. Kewaspadaan bersama sangat dibutuhkan agar tidak terjadi musibah karhutla yang meluas," pungkas Huda. ***