Komandan Lanud Dhomber Balikpapan, Kolonel Penerbang Fata Patria, saat memimpin upacara  Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 TNI Angkatan Udara di Pangkalan Udara Dhomber, Balikpapan, Rabu (9/4/2025).
Balikpapan

TNI AU Kembangkan Sistem Pertahanan Pintar untuk IKN, Radar Jadi Prioritas

  • Pengembangan Smart Defense terus berlanjut hingga saat ini dengan fokus pada penguatan infrastruktur pertahanan udara.
Balikpapan
Muhammad S.J

Muhammad S.J

Author

IBUKOTAKINI.COM—Pangkalan Udara (Lanud) Dhomber Balikpapan menegaskan komitmennya sebagai garda terdepan dalam mendukung sistem pertahanan udara di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lanud terdekat dengan IKN ini tengah mengembangkan sistem pertahanan pintar (smart defense system) untuk memperkuat pengamanan wilayah udara ibu kota baru tersebut.

Komandan Lanud Dhomber Balikpapan, Kolonel Penerbang Fata Patria, mengungkapkan bahwa pengembangan Smart Defense terus berlanjut hingga saat ini dengan fokus pada penguatan infrastruktur pertahanan udara.

"Sistem ini terus berjalan dan mencakup penguatan infrastruktur pertahanan udara yang komprehensif," ujar Fata saat diwawancarai ibukotakini.com di markas Lanud Dhomber, Rabu (9/4/2029).

Fata menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan alat sensor pengawasan (surveillance) seperti radar yang berfungsi sebagai "mata di udara" untuk memayungi seluruh wilayah IKN. Melalui sistem pertahanan pintar tersebut, Lanud Dhomber juga merencanakan pemasangan sistem pertahanan udara terintegrasi, meskipun detail teknisnya masih bersifat klasifikasi dan dalam tahap perencanaan.

"Dalam sistem pertahanan pintar ini, kami memadukan konsep hard power dan soft power. Dari sisi hard power, TNI AU fokus pada pembangunan infrastruktur seperti radar dan sistem gelar kendali udara," jelasnya.

Sementara dari sisi soft power, mengacu pada slogan Kasau "Ampuh", TNI AU aktif menggandeng masyarakat sekitar untuk mendukung pembangunan infrastruktur pertahanan. "Kami juga akan menempuh jalur diplomasi dengan pihak luar untuk memperkuat sistem pertahanan," sambungnya.

Meski sudah direncanakan secara matang, Fata mengakui bahwa realisasi sistem pertahanan pintar di IKN tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. "Paling cepat bisa terealisasi dalam lima tahun, itu pun dengan syarat mendapatkan dukungan anggaran yang memadai," ungkapnya.

Kolonel Fata menekankan bahwa pembangunan sistem pertahanan udara merupakan proyek jangka panjang yang tidak bisa diselesaikan dalam hitungan bulan atau setahun. "Jika kami berharap selesai dalam setahun, itu terlalu optimis. Kendala utama ada pada sistem kebijakan pemerintah dan ketersediaan anggaran," lanjutnya.

Di tengah program efisiensi anggaran yang dicanangkan pemerintah, TNI AU berupaya menjalankan rencana sesuai pola yang ada, meskipun percepatan tampaknya sulit dilakukan. Pembangunan infrastruktur dan sistem pertahanan udara di IKN masih menunggu arahan serta kebijakan dari pemerintah pusat dan Markas Besar TNI AU.

Fata juga mengungkapkan bahwa TNI AU telah melakukan persiapan khusus menyambut rencana Presiden berkantor di IKN. "Kemarin kami sudah melaksanakan persiapan sewaktu ada rencana Presiden akan berkantor di IKN. Namun, rencana tersebut mengalami penundaan," ungkapnya.

Sebagai langkah awal, TNI AU telah membangun sub-data sementara Markas Besar AU di IKN, lengkap dengan kantor Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), kantor para asisten, dan perangkat pendukung lainnya. "Namun karena situasi yang terus berkembang, semua rencana tersebut masih dalam status stand by," pungkasnya.