
Triwulan I-2026, Realisasi Rumah MBR di Balikpapan 400 Unit
- Target realisasi Tahun 2026 Berjumlah 2.500
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Realisasi pembangunan rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Balikpapan masih jauh dari target pada 2026.
Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (DPD APERSI) Kalimantan Timur menyebut lambatnya perizinan dan mahalnya harga lahan menjadi kendala utama.
Ketua DPD APERSI Kaltim, Sunarti, mengatakan jumlah pengembang yang tergabung dalam APERSI di Kalimantan Timur mencapai sekitar 100 hingga 150 pengembang. Dari jumlah tersebut, sekitar 72 pengembang berada di Balikpapan.
Namun, capaian pembangunan rumah subsidi di Balikpapan masih rendah dibanding target yang ditetapkan tahun ini.
BACA JUGA:
“Untuk Kalimantan Timur realisasi tahun 2026 baru mencapai sekitar 1.300 unit. Kalau Balikpapan baru sekitar 400 unit,” kata Sunarti belum lama ini.
Padahal, target pembangunan rumah subsidi di Kalimantan Timur pada 2026 mencapai 5.000 unit. Dari jumlah tersebut, APERSI memprioritaskan sekitar 2.500 unit untuk Balikpapan.
Menurut Sunarti, penyerapan pembangunan rumah subsidi terbesar saat ini berada di Samarinda dan Penajam Paser Utara (PPU). Sementara Balikpapan masih tertinggal.
“Balikpapan masih telat karena penyediaannya terbatas," katanya.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/el-nino-2026-otorita-ikn-pasang-sensor-karhutla-dan-siaga
Ia menjelaskan, keterbatasan lahan menjadi tantangan utama pengembang di Balikpapan. Selain lahan yang semakin sempit, harga tanah juga terus meningkat karena posisi Balikpapan sebagai pintu gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kondisi tersebut membuat pengembang kesulitan memenuhi ketentuan harga rumah subsidi yang telah ditetapkan pemerintah.
“Sebagai pintu gerbang IKN, tanah di Balikpapan sangat mahal. Sedangkan rumah MBR ini harganya sudah jelas, maksimal Rp182 juta dengan uang muka Rp2 juta,” tandasnya.
Karena itu, pengembang kini lebih banyak melihat potensi pembangunan rumah subsidi di wilayah lain seperti Samarinda dan PPU yang dinilai masih memiliki ketersediaan lahan lebih luas dan harga yang lebih terjangkau. ***
