
UMKM PPU Unjuk Produk di Mahligai Nusantara 2026
- Tiga UMKM PPU tampil di Mahligai Nusantara 2026
Penajam
IBUKOTAKINI.COM - Produk olahan limbah sabut kelapa dari pelaku UMKM asal Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, berhasil menembus pasar Taiwan.
Produk kerajinan berbahan sabut kelapa tersebut menjadi salah satu produk unggulan UMKM PPU yang tampil dalam ajang Mahligai Nusantara 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome, Balikpapan.
Tak hanya produk sabut kelapa, UMKM PPU juga membawa sejumlah produk lokal lain dalam agenda tersebut. Sebanyak tiga UMKM binaan PPU dinyatakan lolos seleksi dan kurasi Bank Indonesia untuk mengikuti Mahligai Nusantara 2026.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindagkop) PPU Marlina mengatakan, keikutsertaan tiga UMKM tersebut menjadi bagian dari fasilitasi untuk memperluas pemasaran produk daerah.
“Ada tiga UMKM PPU yang tampil di Mahligai Nusantara. Ini adalah yang terbaik karena telah lulus kurasi bersama oleh Bank Indonesia,” kata Marlina, Minggu (13/9/2026).
BACA JUGA:
Haornas 2026 di PPU, Mudyat Noor Ajak Anak Aktif Bergerak dan Sehat - ibukotakini.com
Menurut Marlina, pengembangan UMKM di PPU tidak lagi hanya berorientasi pada pasar lokal. Sejumlah pelaku usaha mulai diarahkan untuk memiliki kemampuan dan kesiapan memasuki pasar internasional.
Saat ini, sekitar 40 kelompok UMKM PPU masuk dalam komunitas pembinaan serta kurasi ekspor-impor.
Salah satu pelaku usaha yang telah membuktikan peluang tersebut adalah Rusni. Ia mengolah limbah sabut kelapa menjadi berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi, mulai dari keset, tas hingga sandal.
Produk kerajinan tersebut bahkan telah dipasarkan ke Taiwan.
“Usaha pengolahan sabut kelapa milik Bu Rusni sudah mampu bersaing di skala internasional. Produk kerajinannya beragam dan ekspor ke Taiwan sudah berjalan. Ini jadi bukti sekaligus pemicu motivasi bagi pelaku UMKM PPU lainnya,” ujar Marlina.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus memiliki pasar di luar negeri.
Bagi UMKM PPU, pengembangan produk tidak hanya berkaitan dengan kapasitas produksi. Kualitas, desain, kemasan, hingga kemampuan pemasaran menjadi bagian penting untuk memperluas pasar.
BACA JUGA:
960 Aset Pemkab PPU Ditargetkan Bersertifikat dalam Lima Tahun - ibukotakini.com
Batik PPU Berpeluang Masuk Pasar Global
Selain kerajinan sabut kelapa, produk batik khas PPU juga dinilai memiliki peluang untuk dipasarkan ke pasar internasional.
Marlina menyebut pemanfaatan kanal digital menjadi salah satu cara yang dapat digunakan pelaku usaha untuk memperluas jangkauan konsumen.
“Produk batik kita juga punya peluang di pasar internasional. Pelaku usahanya sudah mahir memanfaatkan platform digital untuk promosi, jadi pasar mereka tidak lagi terbatas di lokal,” katanya.
Data Dinas KUKM Perindagkop PPU mencatat jumlah UMKM yang terdaftar melalui sistem Online Single Submission (OSS) telah mencapai ribuan unit dan masih terus bertambah.
Sementara itu, terkait perlindungan merek dan pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), Marlina menjelaskan kewenangan tersebut berada pada bidang industri. Dinas KUKM Perindagkop PPU lebih berfokus pada aspek perdagangan dan perluasan akses pasar.
Marlina berharap keberhasilan UMKM pengolah sabut kelapa menembus pasar Taiwan dapat menjadi contoh bagi pelaku usaha lain di PPU.
“Kami berharap capaian UMKM penembus pasar Taiwan ini dapat memicu pelaku usaha lain di PPU untuk terus meningkatkan kualitas produk serta memanfaatkan saluran pemasaran modern secara optimal,” pungkasnya. (ADV)
