Harga sawit Kaltim periode Maret 2026 terpantau naik.
Ekbis

Update Harga Sawit Kaltim Maret 2026: Tembus Rp3.266 per Kg

  • Harga Tertinggi Capai Rp3.266
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kabar baik menyambangi para petani kelapa sawit di Kalimantan Timur. Saat Lebaran 2026, harga Tandan Buah Segar (TBS) dilaporkan terus merangkak naik, membawa angin segar bagi kesejahteraan ekonomi daerah.

Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan permintaan Crude Palm Oil (CPO) yang signifikan, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik selama hari raya maupun permintaan pasar internasional yang tetap kuat.

Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ahmad Muzakkir, mengungkapkan bahwa penguatan harga ini merupakan imbas positif dari pergerakan pasar global.

"Kenaikan harga mingguan ini didorong oleh beberapa faktor, terutama penguatan harga CPO di pasar global dan meningkatnya permintaan," ujar Muzakkir dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (24/3/2026).

BACA JUGA:

Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar, Daya Beli Terancam - ibukotakini.com

Berdasarkan data terbaru, rata-rata tertimbang harga CPO kini dipatok sebesar Rp13.998,76 per kg, sedangkan harga Kernel mencapai Rp12.407,74 per kg.

Rincian Harga TBS Kaltim (Periode 1-15 Maret 2026)

Pemerintah telah menetapkan standar harga TBS berdasarkan usia tanam. Berikut adalah rincian harga yang berlaku bagi petani mitra:

Usia TanamHarga per Kilogram
3 TahunRp2.875,21
4 TahunRp3.064,31
5 TahunRp3.084,55
10 Tahun (Puncak)Rp3.266,40

Untuk tanaman usia 6 hingga 9 tahun, harga bergerak stabil di rentang Rp3.118 hingga Rp3.228 per kg.

Pentingnya Kemitraan: Lawan Tengkulak

Muzakkir menegaskan bahwa harga tersebut adalah standar resmi bagi petani yang telah menjalin kemitraan dengan pabrik kelapa sawit (PMS), terutama melalui skema kebun plasma.

BACA JUGA:

IHSG Goyah, IPOT Sarankan Strategi Trading Ini - ibukotakini.com

Langkah kemitraan ini menjadi kunci utama agar petani tidak terjebak dalam permainan harga para tengkulak.

Dengan adanya kerja sama antara kelompok tani dan pabrik, diharapkan harga tetap berada di level normal sehingga kesejahteraan petani sawit di Kaltim benar-benar terwujud.***