
Waspada Lonjakan Kasus, IDI Beberkan Strategi Pencegahan TBC di Balikpapan
- Indonesia menduduki peringkat kedua dunia sebagai penyumbang beban kasus TBC terbesar setelah India
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Balikpapan bersama Tim Penggerak PKK Kota Balikpapan menggencarkan langkah nyata dalam memutus rantai penularan tuberkulosis (TBC).
Melalui kegiatan sosialisasi pencegahan TBC yang digelar pada Sabtu (17/10/2026), ditekankan pentingnya peran serta masyarakat melalui pembentukan Satgas TBC di tingkat kelurahan.
Pemaparan materi utama disampaikan oleh dokter spesialis paru, dr. Subagyo. Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa TBC masih menjadi ancaman kesehatan global dan nasional yang serius.
Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua dunia sebagai penyumbang beban kasus TBC terbesar setelah India, dengan estimasi kasus baru mencapai 1,08 juta hingga 1,1 juta per tahun.
"Terdapat selisih besar atau gap antara estimasi kasus nasional dengan penemuan riil di lapangan yang baru terlaporkan sekitar 50 hingga 60 persen. Kasus yang belum terdeteksi ini menjadi sumber penularan tersembunyi yang berbahaya di tengah masyarakat," ungkap dr. Subagyo di hadapan peserta sosialisasi.
Selain menyoroti tingginya angka kasus secara nasional, dr. Subagyo juga mengingatkan masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya Balikpapan, agar mewaspadai faktor risiko lingkungan.
BACA JUGA:
Ketua IDI Balikpapan Ungkap Semakin Sedikit Generasi Bercita-cita Jadi Dokter - ibukotakini.com
Menurutnya, kondisi cuaca dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat melanda beberapa wilayah turut berisiko menurunkan daya tahan saluran pernapasan, sehingga memperbesar kerentanan terhadap infeksi paru, termasuk TBC.
Sebagai langkah deteksi dini, dr. Subagyo membagikan panduan klinis bagi masyarakat yang mengenali gejala TBC, di antaranya:
- Batuk Berkelanjutan: Batuk berdahak terus-menerus selama 2 minggu atau lebih, meskipun sudah meminum obat batuk (dahak terkadang bercampur darah).
- Gejala Penyerta: Demam, keringat malam hari tanpa aktivitas, penurunan nafsu makan drastis, serta tubuh cepat merasa lelah.
Standar diagnosis saat ini mengutamakan penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM) sebagai standar emas untuk mendeteksi dini keberadaan bakteri serta mengidentifikasi potensi resistensi obat (TB-RO).
Peran Masyarakat Melalui Satgas Kelurahan
Pembentukan Satgas TBC kelurahan ini diharapkan mampu menggerakkan peran aktif warga dalam memutus rantai penularan, melalui beberapa langkah preventif:
- Pengawasan Pengobatan: Penunjukan Pengawas Menelan Obat (PMO) dari keluarga atau kader kesehatan guna memastikan pasien menuntaskan terapi minimal 6 bulan tanpa putus.
- Investigasi Kontak Erat: Melakukan pelacakan kontak pada keluarga serumah untuk mendeteksi dini dan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
- Perbaikan Ventilasi Rumah: Memastikan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk secara optimal ke dalam rumah untuk membunuh kuman TBC yang dapat bertahan di udara.
