Tenun dengan ukiran kriookng dipamerkan dalam sebuah acara di Jakarta,baru-baru ini.
UMKM

Wastra Kriookng, Kerajinan Dayak Tunjung yang Semakin Dikenal

  • Asesoris yang Melekat Pada Pakaian Adat
UMKM
Ambarwati

Ambarwati

Author

IBUKOTAKINI.COM – Wastra Kriookng khas Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, terus berkembang dari kerajinan tradisional menjadi produk bernilai ekonomi. 

Teknik seni ukir dari Suku Dayang Tunjung Rentenukng ini, semakin berkembang setelah diaplikasikan pada kain tenun.

Salah satu perajin yang konsisten mengembangkan wastra tersebut adalah Lydia Selvi, yang kini mampu memproduksi sekitar 10 stel pakaian per bulan dengan melibatkan 10 pekerja.

Pengembangan usaha selama sekitar 16 tahun membuat produksi Wastra Kriookng Kutai Barat meningkat signifikan. Jika sebelumnya seluruh proses dikerjakan secara manual, Lydia kini telah menggunakan mesin jahit untuk mendukung produksi.

Dari usaha tersebut, omzet Lydia mencapai sekitar Rp30 juta per bulan.

BACA JUGA:

UMKM PPU Unjuk Produk di Mahligai Nusantara 2026 - ibukotakini.com

Pendapatan itu digunakan untuk membayar upah pekerja, membeli bahan baku, serta membiayai kebutuhan produksi Wastra Kriookng.

Sebelum berkembang seperti sekarang, produksi Lydia masih dilakukan secara manual. Satu stel pakaian lengkap beserta aksesori Kriookng kala itu dijual sekitar Rp1,5 juta, dengan pendapatan sekitar Rp3 juta per bulan.

Berawal dari Warisan Keluarga

Lydia mulai serius mengembangkan Kriookng pada 2010. Kecintaannya terhadap kerajinan khas Dayak Tunjung itu tumbuh sejak kecil setelah mengenalnya dari sang tante.

Ketika sang tante meninggal dunia dan tidak ada anggota keluarga yang meneruskan kerajinan tersebut, Lydia memilih mengambil peran untuk mempertahankannya.

Lydia Selvi salah satu perajin yang menghidupkan wastra Kriookng Dayak Tunjung.
Foto:  Prokom Kubar

BACA JUGA:

Berawal dari Modal Rp5 Juta, Wawa Etnika Kini Raup Omzet Rp15 Juta per Bulan - ibukotakini.com

Kriookng atau ngereok dalam bahasa Dayak Tunjung Rentenukng berarti melubangi. Kerajinan tersebut dikenal melalui motif yang beragam, warna cerah, serta ukiran berlapis yang membutuhkan ketelitian dalam proses pembuatannya.

Upaya Lydia mempertahankan kerajinan itu dilakukan ketika dirinya masih aktif sebagai tenaga kesehatan. Ia pernah bertugas di RS Dirgahayu dan Klinik Santo Yoseph di Kecamatan Tering sebelum pensiun pada Juli 2022.

Pada awalnya, pemasaran dilakukan secara sederhana melalui keluarga dan teman. Produk kemudian semakin dikenal setelah Lydia mengikuti berbagai pameran.

Kesempatan tersebut membuka akses pasar yang lebih luas bagi Wastra Kriookng, termasuk calon pembeli dari luar daerah hingga mancanegara.

Tak Sekadar Mengejar Omzet

Bagi Lydia, perkembangan usaha Kriookng tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pendapatan. Ada misi untuk mempertahankan identitas budaya Dayak Tunjung agar tetap dikenal generasi muda.

BACA JUGA:

Lamin Benung: Menjaga Nadi Peradaban Suku Dayak Benuaq - ibukotakini.com

Ia mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, tidak malu menggunakan produk budaya daerah.

“Jangan pernah malu dengan ciri khas budaya kita. Dengan mengenakan wastra Kriookng atau produk turunannya, berarti kita ikut mempromosikan dan mencintai produk kita sendiri,” ujar Lydia.

Dukungan promosi melalui berbagai pameran juga dinilai membantu memperluas pengenalan produk khas Kutai Barat tersebut.

Bagi Lydia, semakin luas pasar Kriookng, semakin besar pula peluang perajin untuk mempertahankan produksi sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Dayak Tunjung.

BACA JUGA:

Indonesia Kuasai 80 Persen Pasar Kratom Dunia - ibukotakini.com

Produk Wastra Kriookng karya Lydia Selvi dapat dipesan melalui nomor +62 813-4001-694 atau dengan mendatangi rumahnya di Gang Gereja RT 3, Kampung Linggang Melapeh, Kecamatan Linggang Bigung, Kutai Barat. ***