YKI Balikpapan Ajak Mahasiswa Kenali Risiko Kanker Sejak Usia Muda
Balikpapan

YKI Balikpapan Ajak Mahasiswa Kenali Risiko Kanker Sejak Usia Muda

  • Kanker Paru Mengintai, YKI Balikpapan Ajak Mahasiswa Hindari Rokok
Balikpapan
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Balikpapan mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, meningkatkan kesadaran terhadap pencegahan kanker sejak usia dini.

Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertema penyuluhan pencegahan kanker yang digelar YKI Cabang Balikpapan bersama Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Balikpapan (Uniba) di Ballroom Putri Aji Karangmelenu, lantai 8 Gedung FK Uniba, Rabu (7/10/2026).

Kegiatan ini diikuti mahasiswa FK Uniba, mahasiswa Program Studi K3 Uniba, serta perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Balikpapan, di antaranya Politeknik Negeri Balikpapan (Poltekba), STIE Madani, dan Institut Teknologi Kalimantan (ITK).

Hadir dalam kegiatan tersebut Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi (Yapenti) Dharma Wirawan Kalimantan Timur (DWK) Universitas Balikpapan Rendi Susiswo Ismail, Dekan FK Uniba Iwan Zulfikar, Ketua YKI Cabang Balikpapan Sri Sutantinah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan Alwiati, serta sejumlah dokter dan anggota YKI Cabang Balikpapan. Kegiatan tersebut turut diprakarsai Prodia dan Pramita Lab.

Ketua YKI Cabang Balikpapan Sri Sutantinah mengatakan, pencegahan kanker perlu dikenalkan sejak usia muda. 

“Di mana mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus menyebarkan informasi kesehatan kepada lingkungan sekitarnya,” katanya dalam sambutan.

Ketua YKI Cabang Balikpapan, Sri Suoetantinah menyerahkan souvenir kepada Dekan Fakultas Kedokteran Uniba

Salah satu perhatian YKI adalah kebiasaan merokok yang masih tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, jumlah perokok aktif di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 70 juta orang.

Dari jumlah tersebut, sekitar 7,4 persen merupakan anak dan remaja berusia 10 hingga 18 tahun.

Sri Sutantinah mengatakan, kanker paru masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius di Indonesia. Data yang disampaikan YKI mencatat sekitar 34 ribu kasus baru kanker paru setiap tahun, dengan angka kematian mencapai sekitar 30 ribu hingga 31 ribu kasus.

“Rokok merupakan salah satu faktor risiko utama kanker paru. Karena itu, pencegahan harus dimulai sejak usia muda,” kata Sri Sutantinah.

Menurutnya, asap rokok mengandung ribuan bahan kimia berbahaya yang dapat merusak sel dan DNA paru. Risiko gangguan kesehatan juga meningkat seiring lamanya dan banyaknya paparan rokok.

Karena itu, YKI mengingatkan generasi muda agar tidak menunggu sakit untuk mulai menjaga kesehatan.

dr. Esther Vonny. bersama dr. Varianidia Veterini, Sp.OG, (tengah) dan dr. Maurits Marpaung, Sp.P(K) 

Usia muda, lanjutnya, justru menjadi momentum untuk membangun kebiasaan hidup sehat. Upaya mengurangi kebiasaan merokok juga perlu dilakukan melalui edukasi dan dukungan, bukan dengan menghakimi.

“Tubuh yang sehat adalah modal untuk mewujudkan masa depan. Kalian adalah generasi yang akan menentukan wajah Balikpapan dan Indonesia beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

Selain edukasi, YKI Cabang Balikpapan menjalankan sejumlah program pencegahan dan penanggulangan kanker. Program tersebut mencakup penyuluhan, deteksi dini, pemeriksaan, pendampingan pasien, bantuan nutrisi, dukungan bagi pasien kanker kurang mampu hingga perawatan paliatif.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinkes Balikpapan Alwiati mengatakan, peningkatan kesadaran mengenai kanker perlu dimulai dari generasi muda.

Ia menilai mahasiswa bukan hanya perlu memahami faktor risiko kanker, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Kami berharap hasil dari pertemuan ini dapat menjadikan mahasiswa sebagai agen perubahan dan corong pemerintah dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat,” ujar Alwiati.

Ia juga meminta masyarakat mengubah pandangan bahwa kanker hanya berkaitan dengan usia lanjut, keturunan, atau pengobatan setelah seseorang jatuh sakit.

“Paradigma harus kita ubah. Kanker bukan persoalan pengobatan saja. Kanker adalah persoalan pencegahan, perilaku hidup sehat, deteksi dini, literasi kesehatan lingkungan, dan kebijakan kesehatan,” tegasnya.

Alwiati menyebut kanker termasuk penyakit katastropik yang membutuhkan pembiayaan kesehatan besar. Karena itu, langkah pencegahan dinilai jauh lebih penting sebelum penyakit berkembang.

Ia mengutip data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2024 dari International Agency for Research on Cancer (IARC) dan WHO yang memperkirakan Indonesia mengalami sekitar 474 ribu kasus baru kanker, dengan sekitar 283 ribu kematian.

dr. Martin Ayuningtyas Wulandari, M.Kes, Sp.GK, FINEM, AIFO-K yang membahas peran gizi dalam mencegah kanker, dengan moderator dr. Syafaah

Selain itu, sekitar 1,13 juta orang diperkirakan hidup dengan kanker yang telah didiagnosis dalam lima tahun terakhir.

“Artinya, kita harus bertanya, mengapa harus menunggu sakit terlebih dahulu baru peduli terhadap kesehatan?” katanya.

Alwiati menjelaskan, risiko kanker memang meningkat seiring bertambahnya usia akibat akumulasi paparan faktor risiko dan perubahan biologis. Namun, usia muda tidak membuat seseorang sepenuhnya terbebas dari risiko kanker.

“Mahasiswa sekalian, muda bukan berarti bebas dari kanker. Justru kita semakin menyadari pentingnya membangun perilaku pencegahan sejak usia muda,” tuturnya.

Sejumlah faktor risiko kanker antara lain merokok dan paparan asap rokok, kurang aktivitas fisik, obesitas, pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet, serta infeksi tertentu seperti HPV dan hepatitis B.

“Pencegahan harus dilakukan sebelum penyakit datang. Jangan menunggu sakit baru kita mulai menjaga kesehatan,” ujarnya.

Pembina Yapenti DWK Universitas Balikpapan Rendi Susiswo Ismail mengatakan, kuliah umum tersebut tidak hanya memberikan tambahan wawasan kepada mahasiswa. Kegiatan itu juga menjadi ruang pembelajaran bagi calon dokter untuk membangun kolaborasi dengan berbagai institusi dan organisasi kesehatan.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa berkolaborasi bersama-sama, khususnya dalam memberikan penguatan terhadap kesehatan dan eksistensi Fakultas Kedokteran,” ujarnya.

Rendi menegaskan Uniba terbuka terhadap kegiatan edukasi kesehatan yang digelar di lingkungan kampus, mulai seminar, pelatihan hingga kegiatan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.

Ia bahkan mempersilakan berbagai pihak memanfaatkan fasilitas FK Uniba untuk kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Silakan manfaatkan fasilitas dan sarana yang ada di Fakultas Kedokteran. Mau seminar, pelatihan atau kegiatan lainnya, silakan gunakan gedung ini, insya Allah kami fasilitasi,” katanya.

Dekan FK Uniba Iwan Zulfikar mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kuliah umum tersebut. Ia juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa FK Uniba angkatan 2026 yang terlibat sebagai panitia.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini menjadi bagian dari proses pembelajaran. 

“Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan langsung dari para narasumber, tetapi juga belajar mengelola kegiatan dan membangun jejaring dengan berbagai pihak,” tambahnya.

Ia berharap kuliah umum tersebut berkembang menjadi ruang kolaborasi antara FK Uniba, organisasi kesehatan, perguruan tinggi, dan lembaga lain yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.

Dalam sesi utama, peserta mendapatkan materi dari tiga dokter dengan topik berbeda.

dr. Varianidia Veterini, Sp.OG menyampaikan materi “Kanker Serviks, Kenali dan Cegah Sejak Dini”.

Selanjutnya, dr. Maurits Marpaung, Sp.P(K) membahas “Kanker Paru, Deteksi Dini dan Pencegahan”, dengan moderator dr. Esther Vonny.

Materi kemudian dilanjutkan dr. Martin Ayuningtyas Wulandari, M.Kes, Sp.GK, FINEM, AIFO-K yang membahas peran gizi dalam mencegah kanker, dengan moderator dr. Syafaah. ***