Target Kapasitas Produksi 5 Kali Lipat, SBMA Belanja ASP dari China

Redaksi - Minggu, 18 September 2022 21:01 WIB
Penandatanganan MoU pihak SBMA dengan UGM dalam rangka pengelolaan dan pemanfaatan limbah B3. FOTO: SBMA untuk Ibukotakini.com

IBUKOTAKINI.COM – Emiten asal Kota Balikpapan, PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) mendatangkan Air Separation Plant (ASP) sebagai upaya meningkatkan kapasitas produksi.

Produsen gas industri yang berdiri sejak 1980 itu telah memulai rencana pengembangan pabrik mereka di kawasan Batakan, Balikpapan Timur.

Direktur dan Corporate Secretary SBMA, Cintia Kasmiranti mengatakan, Air Separation Plant (ASP) akan mengungkit produksi SBMA menjadi 5 kali lipat dari kapasitas saat ini.

BACA JUGA:

“ASP sudah selesai diproduksi dari China dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya yang diestimasikan tiba pada Oktober 2022,” kata Cintia Kasmiranti dalam pernyataan yang dirilis Minggu, 19 September 2022.

Penghuni bursa yang melantai sejak 8 September 2021 itu menggunakan dana hasil penawaran saham umum perdana (IPO) sebesar Rp52 miliar.

“Dana yang didapatkan digunakan oleh SBMA untuk pengembangan pabrik yaitu pembelian ASP yang dapat menignkatkan kapasitas produksi SBMA naik menjadi 5 kali lipat,” terang Cintia kemudian.

BACA JUGA:

SBMA menargetkan ASP baru beroperasi resmi pada awal tahun 2023 untuk memenuhi target permintaan pasar industri yang kian meningkat pasca pandemi.

Sebelumnya SBMA telah memperluas pabrik dengan melakukan pembelian tanah seluas 20.503 meter persegi, dengan nilai Rp23 miliar.

Dalam laporan yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia, saat ini kapasitas produksi SBMA mencapai 2 juta liter per tahun dan akan dinaikkan hingga menjadi 10 juta liter per tahun. Untuk itu akan dilakukan penambahan 3 unit lorry tank, 50 tabung vgl oxygen dan investasi 5.000 tabung.

RENCANA BISNIS

Direktur dan Corporate Secretary SBMA, Cintia Kasmiranti.

Dalam rencana bisnisnya, SBMA juga melakukan pemanfaatan limbah B3 yang merupakan produk sampingan dari gas Acetylene. Hal ini merupakan sesuatu yang baru di Indonesia bagi manufaktur gas industry, mengingat limbah carbide sisa produksi merupakan limbah B3 yang butuh penanganan khusus dalam pengelolaannya.

SBMA telah mempersiapkan dari awal tahun dan saat ini bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada untuk kajian pemanfaatannya.

Penandatanganan Memorandum of Understanding dilaksanakan di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Sleman, Yogyakarta pada hari Jumat, 26 Agustus 2022.

BACA JUGA:

SBMA diwakili oleh Direktur Utama, Rini Dwiyanti dan Cintia Kasmiranti selaku Direktur dan Corporate Secretary. Sedangkan dari Universitas Gadjah Mada diwakili Dr. Ir. Jarot Setyowiyoto sebagai Kepala Pusat Kajian LKFT UGM, Ir. Dr. Awaludin, M.SC., Ph.D, selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Ppm dan Kerjasama, Ir. Rochim Bakti Cahyono, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM., sebagai Tim Leader dan Prof. Sarto, sebagai tenaga ahli.

“Hal ini menandai komitmen perseroan untuk menjadi perusahaan yang berkelanjutan dan berinovasi untuk mengembangkan bisnis perusahaan,” terang Cintia Kasmiranti didampingi Komisaris Independen, Slamet Brotosiswoyo.

Berbagai inovasi dilakukan SBMA termasuk dalam melayani pelanggan dan meningkatkan mutu produknya. Saat ini SBMA memilik laboratorium gas industri dan menjadi satu-satunya di Kalimantan.

Sesuai misi perusahaan dalam manajemen mutu, SBMA juga senantiasa meng – upgrade SDM nya, agar dapat memberikan produk berkualitas tinggi kepada pelanggan. ###

Editor: Ferry

RELATED NEWS