Tragedi Kanjuruhan: Kesaksian Suporter yang Selamat

Redaksi - Minggu, 02 Oktober 2022 10:14 WIB
Gas air mata meletup di tribun penonton. Foto: Twitter

IBUKOTAKINI.COM - Seorang suporter Arema Malang, Rezqi Wahyu menuliskan kesaksiannya sebelum pertandingan, selesai pertandingan sampai kerusuhan terjadi. Melalui akun twitter @LIBRA_12, ia menceritakan kronologi insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, 1 Oktober 2022.

"Dari awal saya masuk stadion (kondisi pemain sedang pemanasan) semua berjalan aman dan tertib hingga kick off pukul 20.00 (WIB)," Ia mengawali cerita.

"Kick off dimulai dan pertandingan berjalan aman, tanpa kericuhan sedikitpun.. Yang ada hanya supporter Arema saling melontarkan psywar ke arah pemain persebaya," imbuh Wahyu.

Babak pertama selesai, dan saat jeda istirahat, ada sekitar 2-3 kali sedikit kericuhan di tribun 12-13, yang bisa segera diamankan oleh pihak berwenang.

Babak ke-2 berlanjut dan tim Persebaya berhasil mencetak golnya yang ke-3. Arema FC semakin tampil menyerang menggempur gawang Persebaya, tapi tidak ada gol yang tercipta

"Semakin banyak serangan, semakin gemas juga kita sebagai supporter menontonnya..." tulis Wahyu.

Hingga peluit akhir dibunyikan, Arema tidak bisa menambah golnya. Dan harus menerima kekalahan.

"Disinilah awal mula tragedi dimulai... Setelah peluit di bunyikan, para pemain arema tertunduk lesu dan kecewa..."

Pelatih Arema dan manager tim mendekati tribun timur dan menunjukkan gestur minta maaf ke supporter. "Disisi lain, ada 1 orang supporter yang dari arah tribun selatan nekat masuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa. Terlihat sedang memberikan motivasi dan kritik kepada mereka,"

"Kemudian ada lagi beberapa oknum yang ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya kepada pemain Arema, terlihat John Alfarizie mencoba memberi pengertian kepadan oknum tersebut."

Namun, semakin banyak mereka berdatangan, semakin ricuh kondisi stadion karena dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain..

Di ikuti dengan lemparan berbagai macam benda ke arah lapangan, dan para suppoter yang semakin tidak terkendali. Akhirnya pemain digiring masuk ke dalam ruang ganti dengan kawalan pihak berwajib.

Setelah pemain masuk, supporter makin tidak terkendali dan semakin banyak yang masuk ke lapangan.

"Pihak aparat juga melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para supporter, yang menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, dipentung dengan tongkat panjang, 1 supporter dikeroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya," tulis Wahyu.

Tapi saat aparat memukul mundur supporter di sisi selatan, supporter dari sisi utara yang menyerang ke arah aparat. Karena semakin banyaknya supporter yang masuk ke lapangan dan kondisi sudah tidak kondusif, aparat menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah suppoter yang ada di lapangan.

Silih berganti supporter menyerang aparat dari sisi selatan dan utara.

Yang akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi aksi tembakan gas air mata ke arah supporter.

"Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah supporter, disetiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata... Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu di tribun 10."

Para supporter yang panik karena gas air mata, semakin ricuh di atas tribun, mereka berlarian mencari pintu keluar, tapi sayang pintu keluar sudah penuh sesak karena para supporter panik terkena gas air mata.

"Banyak ibu-ibu, wanita orang tua dan anak-anak kecil yang terlihat sesak gak berdaya, gak kuat ikut berjubel untuk keluar dari stadion. Terlihat mereka sesak karena terkena gas air mata. Seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet," tulis Wahyu.

Di dalam stadion mereka sesak karena gas air mata yang sudah ditembakkan ke berbagai arah.
Sedangkan untuk keluar stadionpun gak bisa karena macet, penuh sesak di pintu keluar.
Di luar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata.

"Dan sekitar pukul 22.30 juga masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat, dan pengeroyokan supporter terhadap aparat yang dianggap mengurung kita di dalam stadion dengan puluhan gas air mata."

Dan terjadi beberapa tembakan gas air mata kembali di luar stadion. Lebih tepatnya di sekitar tribun 2 Kanjuruhan.

Kondisi luar stadion Kanjuruhan sudah sangat mencekam.. Banyak supporter yang lemas bergelimpangan, teriakan dan tangisan wanita. Supporter yang berlumuran darah, mobil hancur.
"Kata-kata makian dan amarah... batu batako, besi dan bambu berterbangan," imbuhnya.

"Dan selama saya jadi supporter Arema... Saya dikenalkan arema oleh orang tua saya saat tahun 2007 hingga saat ini... Hari ini 1 Oktober 2022 adalah titik terendah saya menjadi seorang supporter," ungkap Wahyu.

"Saya masih belum percaya menyaksikan saudara" saya dengan kondisi seperti ini. Tanpa mengurangi rasa respect saya kepada keluarga korban, Di sini saya mencoba menjelaskan kronologi yang saya alami secara pribadi.."

"Saya sangat terpukul dengan adanya insiden ini.. Dan semoga kejadian ini adalah yang terahir di semua cabang olahraga & hiburan, khususnya di sepak bola," pungkas Wahyu. Kesaksian Wahyu telah diunggah ulang oleh ribuan pengguna media sosial. ###

Editor: Ferry
Tags tragedi kanjuruhan Bagikan

RELATED NEWS