14 Kampung Siaga Bencana di Kaltim Berhasil Terbentuk
Samarinda

14 Kampung Siaga Bencana di Kaltim Berhasil Terbentuk

  • Relawan Tagana dibekali tiga kemampuan dasar, yakni pengelolaan dapur umum, keterampilan mendirikan tenda darurat, serta pemberian dukungan psikososial
Samarinda
Robi Sugiarto

Robi Sugiarto

Author

IBUKOTAKINI.COM - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam maupun sosial. Ke depan, seluruh kabupaten dan kota di Kaltim diharapkan memiliki Kampung Siaga Bencana (KSB), terutama di wilayah yang tercatat memiliki tingkat kerawanan tinggi.

KSB dirancang tidak hanya sebagai wadah aktivitas Taruna Siaga Bencana (Tagana), tetapi juga sebagai bentuk kolaborasi aktif yang melibatkan masyarakat setempat secara langsung dalam upaya mitigasi dan penanganan awal bencana.

Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Pertama Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur, Arif Maulana, menilai keberadaan KSB sangat krusial, terutama pada fase awal kejadian. Dalam penanganan bencana, dikenal istilah golden time, yakni waktu krusial yang menentukan keberhasilan penyelamatan dan upaya meminimalkan dampak.

“Selain aksi penyelamatan, KSB juga berfungsi sebagai lumbung logistik. Ini memastikan kebutuhan dasar korban dapat dipenuhi secara mandiri di lokasi sebelum bantuan dari luar datang,” ungkap Arif di Samarinda, Selasa (27/1/2026).

BACA JUGA:

Jasa Raharja Pastikan Santunan Korban KM Dharma Kartika IX - ibukotakini.com

Hingga kini, tercatat 14 Kampung Siaga Bencana telah terbentuk dan tersebar di sejumlah wilayah strategis di Kaltim, antara lain Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara.

Seluruh KSB tersebut dilaporkan aktif berkontribusi, mulai dari penanganan kebakaran permukiman hingga pencarian korban tenggelam. Namun, pembentukan KSB tidak dilakukan di semua desa, melainkan diprioritaskan pada kawasan rawan bencana dengan syarat terdapat unsur relawan Tagana di dalamnya.

Ia menyebut, relawan Tagana dibekali tiga kemampuan dasar, yakni pengelolaan dapur umum, keterampilan mendirikan tenda darurat, serta pemberian dukungan psikososial bagi para penyintas bencana.

“Pemerintah daerah juga rutin melakukan evaluasi terhadap kinerja Tagana,” tukasnya. Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi kemanusiaan mereka yang bekerja secara sukarela tanpa gaji, pemerintah memberikan tali asih.

“Mereka adalah relawan yang terjun langsung ke masyarakat dan menjadi garda terdepan dalam penyelamatan serta pemenuhan kebutuhan dasar warga saat musibah terjadi,” kata Arif.***